Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

“Tabot, Tobat, dan Maksiat: Jejak Budaya, Memaknai Festival dan Spritual Tabot di Bumi Merah Putih Bengkulu”

Cloud Hosting Indonesia

Penulis – Fatkur Rohman, M.Pd.I Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bengkulu Bidang Dakwah

Bengkulu, – Di antara gegap gempita budaya Nusantara, Bengkulu memiliki warisan agung bernama Tabot. Bukan sekadar seremoni tahunan atau tontonan keramaian semata, Tabot sesungguhnya menyimpan pesan spiritual yang dalam: tentang kehilangan, pengorbanan, dan kesetiaan. Tentang bagaimana manusia belajar mengingat nilai-nilai suci dari kisah cucu Nabi, Al-Husain, yang gugur di Karbala. Namun di balik kemegahan Tabot, tersimpan pula ajakan sunyi yang patut direnungkan yaitu tobat.

Kita sebagai manusia biasa, adalah makhluk yang tak luput dari salah dan dosa. Dalam hidup yang penuh godaan, maksiat terkadang menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Tapi justru di sanalah letak kasih sayang Ilahi pintu tobat selalu terbuka. Tobat menjadi jembatan dari kesalahan menuju keselamatan. Dan Tabot, dengan segala simbolik dan rangkaian ritualnya, seakan hadir setiap tahun untuk mengingatkan: bahwa hidup bukan sekadar rutinitas, tapi juga sebuah perjalanan ruhani menuju ampunan dan ridha Allah.

Di Bumi Merah Putih, di tanah Bengkulu yang kita cintai ini, Tabot bukan hanya peninggalan budaya. Ia adalah cermin. Cermin untuk melihat ke dalam: sejauh mana kita telah menjauh dari maksiat, sejauh mana kita telah mendekat kepada tobat. Maka, mari jadikan Tabot bukan hanya sebagai agenda wisata budaya, tetapi juga sebagai ajang refleksi spiritual tahunan untuk kita semua.

Lebih dari itu, Tabot mengajarkan tentang kerukunan dan kebersamaan. Tidak ada Tabot yang bisa berdiri sendiri. Ia dibangun atas dasar gotong royong, kekeluargaan, dan kerja sama lintas suku, agama, dan lapisan masyarakat. Inilah simbol kemanusiaan yang luhur bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan sesama, dan bahwa budaya bisa menjadi jembatan menuju harmoni antara manusia dan alam.
Namun, di tengah semarak pelestarian budaya ini, masih ada sebagian orang yang memandang sinis terhadap ritual Tabot. Untuk mereka, izinkan kami berbisik dengan lembut namun tegas: jangan pandang sebelah mata warisan leluhur ini. Rangkaian ritual Tabot bukanlah sekadar tradisi kosong tanpa makna. Ia adalah simbol bahwa manusia adalah makhluk spiritual yang haus akan nilai-nilai suci, yang tak bisa dijangkau hanya dengan logika dan akal semata.

Festival Tabot yang diisi dengan lomba tari, lomba seni budaya, dan berbagai kegiatan lainnya bukanlah semata hiburan dunia. Ia adalah simbol kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. Rangkaian lomba dan kegiatan itu adalah bentuk fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan. Sementara ritual Tabot itu sendiri adalah petunjuk menuju ash-shirath al-mustaqim jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diridhai oleh Allah Swt.

Maka mari kita jaga, kita rawat, dan kita lestarikan Tabot. Bukan hanya sebagai kebanggaan Bengkulu, tetapi juga sebagai warisan spiritual bangsa yang mampu menuntun kita untuk lebih mengenal diri, sesama, dan Tuhan Yang Maha Esa.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *