Bengkulu, – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Bengkulu menyampaikan sikap resmi terkait dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Muktamar X Ancol. Polemik tersebut mencuat setelah insiden perdebatan yang melibatkan Ketua DPC PPP Bengkulu, Dedy Exwan, dengan Amir Uskara, salah satu tokoh senior partai.
Menurut keterangan DPC PPP Kota Bengkulu, ketegangan dipicu oleh sikap Amir Uskara yang dinilai terlalu ngotot ingin memimpin jalannya sidang. Padahal, mayoritas muktamirin (peserta muktamar) menghendaki agar forum tersebut dipimpin oleh Ketua dan Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar yang dinilai lebih netral.
“Muktamirin terpancing emosi karena sikap arogansi Amir Uskara yang tidak memberikan kesempatan peserta untuk menyampaikan pendapat. Peserta ingin sidang dipimpin orang yang lebih netral, bukan tim sukses salah satu calon ketua umum,” tegas Dedy Exwan di Bengkulu, Selasa (30/9).
Ia menambahkan, dalam forum sebesar muktamar yang menentukan arah kepemimpinan partai, netralitas pimpinan sidang adalah harga mati. Menurutnya, ketika sidang dipimpin pihak yang dianggap tidak independen, potensi kericuhan akan semakin besar karena peserta merasa haknya tidak dihormati.
Meski insiden tersebut sempat menimbulkan ketegangan, DPC PPP Kota Bengkulu menilai dinamika yang terjadi masih dalam batas kewajaran. Perbedaan pendapat dan adu argumentasi dalam forum partai merupakan bagian dari demokrasi internal yang tidak bisa dihindari.
“Bagi kami, apa yang terjadi di Muktamar X merupakan bagian dari dinamika internal partai. Justru inilah wujud bahwa kader PPP memiliki semangat untuk memperjuangkan perubahan,” jelas Dedy.
Menurutnya, wajar jika banyak kader menginginkan adanya perubahan kepemimpinan. Selama ini, kepemimpinan Mardiono dinilai gagal membawa PPP keluar dari berbagai persoalan internal maupun dalam memperkuat posisi partai di kancah politik nasional.
“PPP membutuhkan figur baru yang mampu menggerakkan mesin partai, merangkul semua elemen, dan mengembalikan marwah partai sebagai rumah besar umat Islam,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Iwan, salah satu peserta muktamirin asal Bengkulu, mengungkapkan bahwa dirinya bersama perwakilan dari 29 provinsi lain mendukung Agus Suparmanto sebagai ketua umum PPP yang sah dan konstitusional.
Menurutnya, Ketum Agus dianggap sosok yang lebih segar, berpengalaman, serta memiliki kemampuan membangun komunikasi lintas kalangan. Kehadiran Agus diharapkan bisa menjawab kekecewaan kader yang menilai kepemimpinan lama tidak mampu membawa partai ke arah yang lebih baik.
“Saya sebagai peserta Muktamar X bersama rekan-rekan dari berbagai provinsi memberikan dukungan penuh kepada Agus Suparmanto. Mari kita hormati hasil Muktamar X, karena inilah forum tertinggi partai yang harus kita junjung bersama,” ujarnya.
DPC PPP Bengkulu menekankan pentingnya menjaga persatuan pasca-muktamar. Menurut mereka, siapapun yang terpilih nantinya harus mendapat dukungan penuh dari seluruh kader agar partai tetap solid menghadapi agenda politik ke depan, termasuk Pemilu 2029.
“Kami berharap seluruh kader bisa legawa menerima hasil muktamar. Jangan ada lagi kubu-kubuan yang memperlemah partai. Saatnya PPP bangkit kembali dengan kepemimpinan yang mampu mempersatukan,” ungkap Dedy Exwan.
Lebih jauh, Dedy menegaskan bahwa PPP harus segera berbenah dengan memperkuat konsolidasi di tingkat pusat maupun daerah. Konsolidasi itu penting agar mesin partai berjalan optimal dalam menyerap aspirasi masyarakat, terutama umat Islam yang menjadi basis utama PPP.
“Jika kita bersatu, saya yakin PPP akan kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan di Indonesia. Tapi jika kita terus terpecah, maka sulit bagi partai ini untuk keluar dari bayang-bayang kegagalan,” tutupnya.
Dengan demikian, Muktamar X PPP tidak hanya menjadi arena perebutan kepemimpinan, tetapi juga momentum penting bagi kader untuk merefleksikan perjalanan partai. Perdebatan yang terjadi.(Iwan)















