Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

“Fatkur Rohman dan Kampung Anti Korupsi: Teladan Perubahan dari Pinggiran Bengkulu”

Cloud Hosting Indonesia

Bengkulu, – Di tengah pesimisme publik terhadap pemberantasan korupsi, sosok Fatkur Rohman, M.Pd.I, muncul sebagai cahaya kecil yang menerangi lorong gelap birokrasi dan budaya permisif terhadap praktik curang. Berangkat dari RT 30 Kelurahan Pekan Sabtu, Kota Bengkulu, Fatkur tidak hanya menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, tapi menghadirkannya dalam bentuk nyata: Kampung Anti Korupsi.

Sebagai Penyuluh Agama Islam Non-PNS, Fatkur cerdas memadukan nilai agama dan semangat transparansi. Prinsip-prinsip integritas ia tanam dalam kultur lokal—mulai dari madrasah integritas warga, transparansi dana kas RT, hingga gerakan Kentongan Anti Korupsi (Gertak). Semua itu menjelma menjadi gerakan sosial berbasis komunitas yang hidup dan membumi.

Yang menarik, pendekatan Fatkur tak menggurui. Ia lebih memilih menjadi contoh, bukan hanya memberi ceramah. Sebagai Ketua RT, ia mempraktikkan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan dan memastikan keterbukaan informasi kepada warga. Melalui WhatsApp grup, ia tampilkan laporan keuangan dan kegiatan rutin RT. Sebuah tindakan kecil, namun berdampak besar.

Penghargaan PAI Award 2025 dari Kementerian Agama bukanlah akhir, tapi pengakuan atas konsistensinya. Fatkur bukan hanya penggerak lokal, ia kini menjadi narasumber nasional dalam forum-forum diskusi antikorupsi. Dengan aktif di media massa dan media sosial, ia menjangkau publik luas, khususnya generasi muda, yang kerap apatis terhadap isu ini.

Keteladanan Fatkur adalah bukti bahwa perubahan tidak selalu datang dari atas. Justru dari pinggiran, dari warga biasa dengan komitmen luar biasa, gerakan antikorupsi bisa tumbuh dan memberi inspirasi. Saatnya pemerintah daerah dan lembaga nasional melirik model kampung seperti ini—bukan sekadar seremoni, tapi revolusi sosial dari akar rumput.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *