Penulis – Saeed Kamyabi
Penulis Menyingkap Tabir Rahasia Homeschooling
Bengkulu, – Belakangan, wacana penangkapan “anak nakal” di Jabar dan Bengkulu ramai diperbincangkan. Pendekatan yang digunakan pun menuai pro-kontra: militeristik atau spiritual?
Istilah “anak nakal” sejatinya bersifat relatif. Di Indonesia, ini bisa berarti membangkang, tawuran, atau bolos sekolah. Namun di Jepang, itu bisa berarti melanggar harmoni sosial. Di Skandinavia, justru dianggap sebagai sinyal luka psikologis, bukan sekadar kenakalan.
Faktor penyebab kenakalan anak pun kompleks: kurang perhatian orang tua, lingkungan buruk, trauma, hingga kemiskinan. Maka, pendekatan penyelesaiannya pun tak bisa disederhanakan.
Pendekatan militer memang menjanjikan disiplin instan. Tapi, itu berisiko menimbulkan trauma dan hanya menyentuh permukaan. Sebaliknya, pendekatan spiritual—meski lebih lambat—menyasar akar persoalan: hati dan moral anak.
Salah satu solusi spiritual yang menjanjikan adalah MQG Training (Moral, Qalb, and Generosity). Program ini menekankan pembinaan karakter lewat kisah, zikir, adab, dan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya “patuh”, tapi juga sadar dan bertumbuh secara batin.
Idealnya, dua pendekatan ini tidak dipertentangkan. Disiplin ala militer bisa menjadi kerangka luar, sementara spiritualitas mengisi batinnya. Negara-negara yang sukses mengatasi kenakalan anak umumnya menggabungkan keduanya dengan dukungan keluarga yang kuat.
Saatnya Indonesia bergerak ke arah yang lebih mendalam: dari sekadar menghukum perilaku menuju membina jiwa. Karena anak nakal bukan musuh negara—mereka adalah cermin dari rapuhnya sistem pembinaan kita.(Rudi/Rls)















