Rejang Lebong, – Sejumlah pedagang takjil yang mengisi lapak di pasar kaget Ramadan yang didirikan pemerintah daerah Kabupaten Rejang Lebong di Lapangan Dwi Tunggal mulai angkat suara. Mereka mengeluhkan sepinya pembeli sejak awal dibuka, bahkan sebagian menyebut omzet yang diperoleh jauh dari target dan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
Ironisnya, di tengah kondisi pasar yang lengang, para pedagang mengaku tetap dikenakan pungutan uang kebersihan sebesar Rp5.000 per hari. Jika dikalkulasikan selama satu bulan Ramadan, jumlahnya mencapai Rp150.000, nominal yang menurut mereka setara dengan biaya sewa lapak saat pasar kaget digelar di Bang Mego pada tahun sebelumnya.
“Awalnya kami dijanjikan gratis, tidak ada pungutan apa pun. Tapi sekarang tetap ada uang kebersihan Rp5.000 per hari. Kalau dikali satu bulan, ya sama saja seperti sewa lapak di Bang Mego dulu,” ujar Rina (34), salah satu pedagang minuman takjil, Selasa (4/3).
Keluhan serupa disampaikan Andi (41), pedagang gorengan. Ia mengaku omzet hariannya di Lapangan Dwi Tunggal tidak menentu dan cenderung rendah.
Ia mengaku, selama berjualan di pasar kaget, omzet rata-rata yang didapat hanya sekitar Rp30.000 – Rp40.000 per harinya. Jauh dari pendapatan biasanya ketika dirinya berjualan di pinggir jalan seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang bisa tembus Rp150.000 – Rp200.000 per hari.
“Kadang cuma habis separuh dagangan. Kalau di pinggir jalan kota, jelas pembelinya ramai. Di sini pembeli sepi, parkir juga kurang tertata, jadi orang malas masuk,” katanya.
Menurut para pedagang, konsep pasar kaget yang dipusatkan di lapangan terbuka tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan pasar Ramadan. Minimnya promosi serta lokasi yang dinilai kurang strategis menjadi faktor penyebab rendahnya kunjungan masyarakat.
Beberapa perwakilan pedagang bahkan menyatakan akan mempertimbangkan untuk tidak lagi berjualan di lokasi tersebut jika kondisi tidak berubah dalam waktu dekat.
“Kalau terus begini, lebih baik kami pindah ke pinggir jalan saja. Memang mungkin tidak serapi di sini, tapi yang penting omzet jelas. Daripada di lapangan tapi pembeli tidak ada,” tegas Yudi (29), pedagang kolak dan es buah.
Para pedagang berharap pemerintah daerah meninjau ulang kebijakan pengelolaan pasar kaget tersebut, termasuk soal pungutan kebersihan yang sejak awal disebut-sebut tidak ada alias gratis.
“Kami meminta adanya evaluasi menyeluruh agar keberadaan pasar Ramadan benar-benar membantu pelaku usaha kecil, bukan justru menjadi beban tambahan di tengah lesunya daya beli masyarakat,” ungkap Yudi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola pasar maupun pemerintah daerah terkait keluhan para pedagang tersebut.(**)















