Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

Perambahan Semakin Marak, Gajah Liar di Seblat Makan Plastik dan Pakaian untuk Bertahan Hidup

Cloud Hosting Indonesia

Bengkulu, – Ancaman terhadap kelangsungan hidup gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Bentang Alam Seblat, Provinsi Bengkulu, semakin mengkhawatirkan. Selain kehilangan habitat akibat perambahan dan alih fungsi lahan, gajah liar kini ditemukan mengonsumsi sampah plastik hingga pakaian bekas untuk bertahan hidup.

Temuan tersebut diketahui dari hasil pemantauan petugas di lapangan. Material plastik dan potongan pakaian bekas ditemukan di dalam kotoran gajah liar yang masih hidup di kawasan Bentang Seblat.

Kondisi ini dinilai menjadi indikasi serius semakin terbatasnya sumber pakan alami akibat penyusutan habitat. Gajah yang terdorong keluar dari wilayah jelajahnya kemudian berinteraksi dengan kawasan perkebunan maupun permukiman yang menghasilkan sampah.

Jika berlangsung terus-menerus, konsumsi plastik dan material lain yang sulit dicerna berpotensi mengganggu sistem pencernaan dan mengancam keselamatan gajah.

Berdasarkan data Koalisi Bentang Alam Seblat, sekitar 30.017 hektare habitat gajah telah dirambah dari total 112.504 hektare kawasan. Sebagian lahan yang dirambah kemudian beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia sekaligus anggota Koalisi Bentang Seblat, Ali, menilai pemerintah harus segera menyusun strategi yang jelas untuk menyelamatkan kawasan tersebut.

“Menhut sudah datang, gubernur juga sudah menyatakan bahwa Bentang Alam Seblat merupakan kawasan penting sebagai habitat gajah dan satwa kharismatik lainnya. Seharusnya pemerintah segera merumuskan strategi dan taktik untuk mengamankan Bentang Seblat,” kata Ali.

Menurutnya, aktivitas penguasaan dan pembukaan lahan masih terus berlangsung. Bahkan, beberapa hari sebelumnya terdapat pertemuan antara kelompok perambah dengan staf ahli Menteri Kehutanan yang membahas potensi usulan perhutanan sosial di dalam habitat gajah Sumatera.

Ali menegaskan, upaya pengamanan tidak cukup hanya menyasar masyarakat yang berada di lapangan. Pemerintah juga harus mengungkap pihak yang menjadi pengendali atau pemodal di balik aktivitas perambahan.

Sementara itu, Direktur Genesis Bengkulu, Egi Ade Saputra, menyebut terdapat informasi mengenai kedatangan Staf Ahli Kementerian Kehutanan pada 15 Agustus 2026 yang bertemu Kelompok Tani Hutan di Sungai Rumbai, Mukomuko.

Pertemuan tersebut dikaitkan dengan pembahasan usulan perhutanan sosial bagi masyarakat yang menggarap kawasan Bentang Alam Seblat maupun konsesi PT Bentara Agra Timber dan PT Anugerah Pratama Inspirasi.

Egi mengatakan, persoalan tenurial memang membutuhkan solusi yang adil, terutama bagi masyarakat yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada lahan. Namun, menurut dia, penguasaan lahan dalam skala besar harus dibedakan dengan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh ruang hidup.

“Jika seluruh persoalan disederhanakan menjadi ‘petani membutuhkan tanah’, terdapat risiko struktur penguasaan lahan yang lebih besar justru tidak pernah diperiksa,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendatangi Bentang Alam Seblat pada 14 Desember 2025 setelah persoalan perambahan habitat gajah menjadi perhatian publik. Saat itu, pemerintah menegaskan komitmen untuk menyelamatkan Bentang Seblat sebagai habitat penting gajah dan satwa kharismatik lainnya.

Komitmen serupa juga mengemuka dalam pertemuan Koalisi Bentang Seblat dengan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan pada Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut disepakati pentingnya menjaga habitat kunci gajah Sumatera yang masih tersisa di Bentang Seblat.

Kini, temuan gajah mengonsumsi plastik dan pakaian menjadi alarm baru bahwa krisis habitat telah berdampak langsung terhadap kebutuhan paling dasar satwa, yakni ketersediaan ruang dan sumber pakan alami.(Raffa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *