Rejang Lebong, Radar Informasi News – Sedikitnya lebih dari 25 pendaki telah dievakuasi dari kawasan Gunung Kaba, Kabupaten Rejang Lebong, sepanjang 2026.
Proses evakuasi dilakukan tim rescue gabungan yang terdiri dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Kaba, volunteer, hingga Basarnas Rejang Lebong.

Namun, dari puluhan kejadian tersebut, sebagian besar ternyata bukan disebabkan pendaki tersesat. Faktor kondisi fisik dan kurangnya kesiapan menghadapi aktivitas pendakian justru menjadi penyebab yang paling sering ditemukan tim rescue.
Ketua Pokdarwis Gunung Kaba, Yulian Adi Pratama, mengatakan dari lebih 25 pendaki yang telah dievakuasi, hanya satu orang yang sempat dinyatakan hilang akibat tersesat.
“Dari sekitar 25 pendaki yang berhasil kami evakuasi, hanya satu di antaranya yang disebabkan tersesat dan sempat hilang. Namun akhirnya berhasil ditemukan dan dievakuasi dengan selamat,” ujar Adi.
Sementara itu, mayoritas pendaki yang membutuhkan pertolongan mengalami gejala hipotermia hingga kehilangan kesadaran akibat kelelahan.
“Sebagian besar pendaki yang kami evakuasi disebabkan gejala hipotermia, dan juga hilang kesadaran karena tubuh yang sudah lelah. Namun begitu, tidak ada korban jiwa dalam beberapa kejadian ini,” jelasnya.
Kasus terbaru terjadi pada Senin (31/8/2026). Tim rescue gabungan kembali bergerak setelah seorang pendaki perempuan dilaporkan mengalami kondisi yang diduga gejala hipotermia saat melakukan camping di kawasan Bukit Gajah.
Pendaki tersebut diketahui bernama Nabila (20), asal Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Sekitar pukul 21.00 WIB, Nabila dilaporkan mengalami penurunan kesadaran dan menggigil di dalam tenda. Setelah menerima laporan tersebut, tim rescue gabungan langsung bergerak menuju lokasi camping.
Korban bersama empat rekannya diketahui mendirikan tenda sekitar 1,5 kilometer dari basecamp Pokdarwis Gunung Kaba. Setibanya di lokasi, tim langsung memberikan penanganan darurat kepada korban sebelum melakukan proses evakuasi menuju basecamp.
“Sesampainya di lokasi, korban langsung kami berikan penanganan darurat sebelum akhirnya kami evakuasi ke basecamp,” ujar Adi.
Menurutnya, keseluruhan proses rescue dan evakuasi, mulai dari tim bergerak menuju lokasi hingga korban kembali ke basecamp, membutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Berdasarkan penanganan di lapangan, kondisi korban diduga berkaitan dengan kelelahan setelah melakukan pendakian serta minimnya asupan kalori dari logistik yang dibawa.
Adi mengatakan kasus pendaki mengalami gangguan fisik hingga harus dievakuasi bukan pertama kali terjadi di Gunung Kaba.
Menurutnya, meningkatnya animo masyarakat terhadap aktivitas pendakian dalam beberapa tahun terakhir perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai manajemen pendakian dan prosedur keselamatan.
Kesiapan fisik, perlengkapan, logistik serta kemampuan membaca kondisi selama pendakian menjadi sejumlah hal yang menurutnya harus diperhatikan sebelum pendaki memulai perjalanan.
“Kedepan kita berharap para pendaki lebih care lagi dengan keselamatan mereka, dengan tidak menganggap remeh standarisasi pendakian serta aturan-aturan yang telah ditetapkan,” tegas Adi.
Menurutnya, aturan dan standar keselamatan yang diterapkan di kawasan pendakian bukan semata-mata untuk membatasi aktivitas wisatawan, melainkan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pendaki.
“Ini bukan untuk kami, melainkan untuk keselamatan dan kenyamanan pendaki itu sendiri,” sambungnya.
Di sisi lain, intensitas proses penyelamatan pendaki juga membuat kebutuhan terhadap peralatan rescue menjadi perhatian Pokdarwis Gunung Kaba.
Adi mengungkapkan, pihaknya masih kekurangan sejumlah perlengkapan yang dibutuhkan untuk menunjang proses evakuasi, terutama ketika harus membawa korban melewati jalur dengan medan yang sulit.
“Kami masih kekurangan sejumlah peralatan, seperti tandu basket serta kendaraan yang siap standby di jalur evakuasi,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dapat memberikan dukungan terhadap kebutuhan peralatan tersebut.
“Kami berharap kedepannya Pemkab Rejang Lebong bisa membantu mendukung sejumlah perlengkapan tersebut, agar proses rescue bisa dilakukan seefektif mungkin,” pungkas Adi.(Arie/**)















