Bengkulu, – Proses penjaringan Calon Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Bengkulu masih berlangsung. Ketua Tim Seleksi (Timsel), Edwar Samsi, S.IP, MM, mengungkapkan hingga dua hari menjelang penutupan pendaftaran, baru tercatat 25 orang calon yang mendaftarkan diri.
“Sejak dibuka pada Agustus lalu hingga hari ini, jumlah pendaftar baru 25 orang. Padahal waktu pendaftaran akan segera ditutup pada 17 September. Artinya masih ada kesempatan dua hari lagi bagi masyarakat yang berminat untuk ikut serta dan pendaftaran tidak akan diperpanjang karena jumlah peserta sudah melebihi minimal 21 peserta,” jelas Edwar.
Ia berharap menjelang batas akhir pendaftaran, jumlah peserta semakin bertambah sehingga proses seleksi berjalan lebih kompetitif. Menurutnya, keberadaan KPID sangat penting dalam menjaga kualitas penyiaran di daerah, baik televisi maupun radio, agar tetap sesuai dengan regulasi serta nilai-nilai budaya bangsa.
Edwar menekankan bahwa komisioner yang akan terpilih harus memiliki integritas tinggi, memahami tugas pokok dan fungsi KPID, serta mampu menjadi pengawas independen di bidang penyiaran. “Kami ingin mendapatkan figur yang tidak hanya kompeten secara pengetahuan, tetapi juga memiliki keberanian dan komitmen dalam menjaga marwah lembaga penyiaran di Provinsi Bengkulu,” tegasnya.
Proses penjaringan calon komisioner KPID ini dilakukan secara terbuka dan transparan. Timsel mengajak tokoh masyarakat, akademisi, profesional media, maupun masyarakat umum yang memenuhi persyaratan untuk memanfaatkan kesempatan ini. Nantinya, setelah pendaftaran ditutup, Timsel akan melakukan seleksi administrasi, tes tertulis, hingga uji kepatutan dan kelayakan.
Kehadiran komisioner baru diharapkan mampu memperkuat peran KPID dalam mengawasi isi siaran, meningkatkan literasi media masyarakat, serta mendorong lembaga penyiaran agar lebih berkualitas, mendidik, dan bermanfaat bagi publik.
“Semoga dari proses ini akan lahir komisioner KPID yang benar-benar bisa menjadi garda depan dalam menjaga ruang siaran publik yang sehat dan bermartabat,” pungkas Edwar.(Iwan)















