Dwi Laily Sukmawati : Sesuatu Yang Tidak Sesuai Rencana, Belum Tentu Tidak Baik, Bisa Jadi Itu Awal Pintu Rezeki
Bengkulu – Sosok Dwi Laily Sukmawati, S.Pd., M.Hum., perempuan hebat yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi (KBP) Bengkulu sejak Mei 2022 adalah sosok muda yang ceria, menawan serta dulunya mantan wartawan. Dia mempunyai visi agar pegawai KBP Bengkulu dapat menerapkan nilai-nilai CERIA.

Ceria bukan sembarang ceria, selain makna denotasi ceria yang berarti berseri-seri, bersinar atau cerah, CERIA ini merupakan sebuah singkatan dari Cerdas, Edukatif, Responsif, Inovatif dan Akuntabel.
Dwi Laily Sukmawati yang akrab disapa Ibu Lely lahir di Sampang, Madura, 10 Oktober 1982 merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang saat ini dianugerahi dua orang anak Ranti Nur Syahira dan Panca Satria Lesmana, hasil dari pernikahannya dengan Aiptu. Pujianto.
Dituturkan oleh Dwi Laily Sukmawati, dirinya sewaktu SMA bersekolah di SMUN 3 Pamekasan mengambil jurusan IPA dan sempat menjadi juara pertama di kelasnya, yang kemudian ia mencoba mendaftar kuliah di jurusan farmasi dan kedokteran, namun jalan hidup ternyata berubah, setelah melalui beberapa hambatan, akhirnya memilih jurusan Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Surabaya.
“Terkadang, ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencana dan kenyataan yang kita bayangkan, akan tetapi sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana belum tentu hal tersebut tidak baik untuk kita, bisa jadi itu langkah awal pintu rezeki bagi kita, asalkan dijalani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.” tutur Kepala KBP Bengkulu yang akrab dipanggil Lely saat ditemui di kediamannya di daerah Hibrida, Sabtu Sore (24/12).
Diceritakan olehnya, dia dulu sempat menggeluti dunia jurnalistik bergabung di televisi lokal Jawa Timur (Jatim) yaitu JTV menjadi pewara sekaligus redaktur di salah satu program acara stasiun televisi tersebut. “Dunia jurnalistik itu asyik tetapi juga melelahkan bagi mereka yang tidak biasa bekerja cepat. Kita diasah untuk menjadi pribadi yang kritis dan harus selalu memperbarui informasi yang paling mutakhir.” ujarnya.
Ditanya mengenai tanggapannya bekerja di lembaga pemerintah, Dwi Laily Sukmawati mengatakan dunia pemerintahan berbeda dengan dunia jurnalistik. Dunia pemerintahan selain memenuhi tenggat dan mencapai target, kita juga harus memahami alur birokrasi.
“Menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah suatu hal yang tidak pernah saya sangka-sangka sebelumnya, mengingat latar belakang pendidikan saya yang pada awalnya saya pikir akan sulit untuk diterima di lembaga pemerintahan, akan tetapi sekali lagi kita bersyukur dan menjalani segala ketetapan Allah dengan sepenuh hati maka insyaallah kita akan mendapatkan rezeki yang tidak pernah kita duga sebelumnya.” ucapnya sambil tersenyum ramah.
Diungkapkannya hal yang paling tidak bisa dilupakan hingga saat ini adalah ketika dirinya diminta untuk menjadi Ahli Bahasa pada persidangan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2017. “Saya diminta mewakili Balai Bahasa Provinsi Jatim untuk menjadi ahli bahasa pada persidangan di KPK yang tersangkanya pejabat tinggi di Jatim, dilema pasti ada karena sama-sama berasal dari satu daerah, namun disinilah profesionalitas kita diuji dan pastinya jaminan serta perlindungan dari pihak KPK yang membuat saya sedikit tenang.” ungkapnya.
Ditambahkannya, KBP Bengkulu adalah lembaga yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan lebih maju lagi mengingat sumber daya manusia yang dimiliki oleh KBP Bengkulu adalah jiwa-jiwa muda yang enerjik.
“Saya ingin KBP Bengkulu menjadi lebih maju dan CERIA seperti jargon yang saya ciptakan.” pungkas Dwi Laily Sukmawati.(HKS)
Penulis : Hasnul Kasdi – Editor : Ahmad Nasti Nasution















