Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

Ngantuk, Antara Nikmat dan Ujian

Cloud Hosting Indonesia

Oleh – Fatkur Rohman Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Singaran Pati Kota Bengkulu

Bengkulu, – Beberapa waktu lalu saya duduk ngobrol santai bersama Pak Aji Wanto. Obrolan kami awalnya ringan saja, tentang warga, kegiatan sehari-hari, sampai saya lontarkan pertanyaan agak iseng:

“Pak Aji, ada nggak ya ayat Al-Qur’an yang bicara soal ngantuk?”

Beliau tersenyum, lalu menjawab, “Ada. Allah menyebut dalam Al-Anfal ayat 11 dan Ali Imran ayat 154. Pada dua ayat itu, ngantuk disebut sebagai nikmat ketenangan dari Allah. Bahkan para sahabat Nabi pun pernah diberi rasa kantuk yang menenangkan saat perang Badar dan Uhud.”

Saya kaget sekaligus takjub. Ngantuk kok jadi nikmat? Bukankah biasanya ngantuk identik dengan malas dan lemah?

Pak Aji melanjutkan, “Justru itu. Bayangkan, para sahabat waktu perang Badar dan Uhud dalam keadaan lelah, genting, bahkan dicekam rasa takut menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak. Biasanya kalau orang dalam ketakutan, jangankan tidur, pejam mata sebentar saja tidak bisa. Tapi Allah turunkan kantuk yang tidak tertahankan, hingga mereka bisa istirahat sejenak. Rasa kantuk itu menjadi nikmat terbesar, karena dengan kantuk itulah rasa cemas mereka lenyap, hati menjadi tenang, lalu siap kembali berjuang.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya…” (QS. Al-Anfal: 11)

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Allah menurunkan kepada kamu keamanan berupa kantuk yang meliputi segolongan dari kamu…” (QS. Ali Imran: 154)

Dari situ saya semakin sadar: ternyata kantuk bukan sekadar lelah, tapi bisa jadi rahmat dan pengamanan dari Allah.

Namun saya jadi merenung lagi. Kalau kantuk di medan perang adalah nikmat, bagaimana dengan kantuk yang sering menyerang saya saat khutbah Jumat? Baru beberapa menit khatib naik mimbar, kepala terasa berat, mata sayup, dan tahu-tahu khutbah seakan berlalu cepat karena saya lebih dulu tertidur.

Di sinilah bedanya. Kantuk di medan Badar adalah rahmat yang menenangkan hati para sahabat di tengah ketakutan. Tapi kantuk saat khutbah Jumat bisa jadi ujian, apakah hati saya sungguh-sungguh hadir mendengar kalimat Allah, atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban Jumat.

Ngantuk memang nikmat. Sama seperti hujan, ia bisa jadi rahmat atau bisa juga jadi kelalaian tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Dan menariknya, saya juga sering melihat anak-anak di kelas atau di ruang kampus yang mengantuk saat belajar. Kadang mata mereka sayu, kepala hampir terantuk meja, tapi justru di situlah terlihat bahwa belajar membawa ketenangan. Ngantuknya anak-anak saat belajar bukan semata tanda bosan, tapi bagian dari nikmat: karena hati mereka merasa aman, tenang, dan nyaman di ruang ilmu.

Maka pada akhirnya saya pahami, mengantuk itu adalah nikmat yang Allah berikan untuk kita syukuri. Karena di balik kantuk, ada ketenangan, ada perlindungan, dan ada kasih sayang Allah yang menyapa hamba-Nya.(Iwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *