Bengkulu, – Sepak bola sering menghadirkan kisah dramatis yang sulit dilupakan para penggemarnya. Salah satu cerita yang hingga kini masih dikenang adalah kegagalan ACF Fiorentina meraih gelar juara Serie A pada musim 1998/1999. Musim tersebut sempat menghadirkan harapan besar bagi klub asal Florence itu untuk kembali meraih Scudetto setelah puluhan tahun penantian.
Saat itu Fiorentina memiliki skuad yang dianggap sangat kuat. Di lini depan berdiri penyerang legendaris Argentina Gabriel Batistuta yang dikenal tajam dalam mencetak gol. Ia didukung oleh gelandang kreatif asal Portugal Rui Costa yang piawai mengatur serangan. Sementara di lini depan juga terdapat striker Brasil yang penuh kontroversi, Edmundo.
Pada paruh pertama musim, Fiorentina tampil luar biasa. Mereka bahkan berhasil menjadi capolista dan keluar sebagai juara paruh musim. Permainan menyerang yang efektif membuat mereka mampu menaklukkan sejumlah klub besar Italia. Kota Florence pun dipenuhi optimisme bahwa gelar liga yang terakhir diraih pada 1969 berpeluang kembali ke tangan mereka.
Namun perjalanan gemilang itu berubah drastis pada Januari 1999. Dalam pertandingan melawan AC Milan di Stadion San Siro, Batistuta mengalami cedera lutut serius setelah benturan keras dengan pemain lawan. Cedera tersebut memaksanya absen selama beberapa pekan penting dalam perebutan gelar.
Situasi semakin sulit ketika pada waktu yang hampir bersamaan Edmundo memutuskan kembali ke Brasil untuk mengikuti Rio Carnival. Kepergian dua pemain penting itu membuat lini serang Fiorentina kehilangan daya gedor. Tim yang sebelumnya produktif mencetak gol mendadak kesulitan menembus pertahanan lawan.
Ketika Batistuta akhirnya kembali bermain, Fiorentina sudah kehilangan momentum. Posisi mereka perlahan merosot di klasemen hingga akhirnya harus puas mengakhiri musim di peringkat ketiga. Gelar juara Serie A musim tersebut akhirnya diraih oleh AC Milan.
Bagi para pendukung Fiorentina, musim 1998/1999 tetap menjadi kenangan pahit. Banyak yang percaya, jika cedera Batistuta tidak terjadi, sejarah klub mungkin akan berbeda. Kisah itu menjadi bukti bahwa dalam sepak bola, satu momen kecil di lapangan dapat mengubah nasib sebuah tim.(Net)















