Bengkulu, – Terkait ambruknya oprit Jembatan Air Martan kian memanas. Setelah inspeksi mendadak. Anggota Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Ir H. Darmawansyah, MT mengungkap sejumlah dugaan persoalan teknis yang dinilai menjadi penyebab utama kerusakan tersebut.

Saat ditemui di ruang Komisi III, Darmawansyah yang memiliki latar belakang teknik konstruksi menjelaskan bahwa hasil peninjauan lapangan menunjukkan adanya kejanggalan pada desain jembatan. Ia menyebut arah aliran sungai tidak tegak lurus terhadap bangunan, sehingga arus air langsung menghantam struktur jembatan.
“Secara kaidah teknik, ini keliru. Arus jadi terkonsentrasi ke satu titik dan memperbesar tekanan pada oprit,” ujarnya, Sabtu, (2/5/2026).
Menurutnya, kondisi itu diperparah oleh adanya beberapa alur tambahan yang menguatkan arus ke arah jembatan. Selain itu, bangunan pengarah di sekitar lokasi justru dinilai mempersempit aliran sungai, sehingga mempercepat laju air dan meningkatkan daya hantam.
“Fungsinya harusnya mengarahkan, bukan menyempitkan. Ini justru memperburuk kondisi,” tegasnya.
Temuan lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah dugaan minimnya tulangan pada konstruksi. Di lapangan, terlihat bagian struktur yang patah dan terputus, sehingga memunculkan indikasi lemahnya kekuatan bangunan.
Darmawansyah menegaskan, penyebab ambruknya oprit tidak bisa hanya dikaitkan dengan faktor alam. Ia meminta evaluasi menyeluruh, termasuk kajian hidrologi dan perhitungan kapasitas banjir yang menjadi dasar perencanaan.
Dalam perencanaan, dikenal standar kala ulang banjir 25 hingga 100 tahun. Ia menilai perlu dibuktikan apakah debit air saat kejadian benar-benar melampaui kapasitas desain.
Komisi III DPRD Bengkulu berencana memanggil pihak terkait untuk menelusuri dokumen perencanaan dan pelaksanaan proyek. Langkah ini dilakukan guna memastikan penyebab pasti sekaligus mendorong transparansi.
“Ini menyangkut keselamatan publik. Semua harus terbuka,” tutupnya.(Raffa)















