Bengkulu, — Perubahan iklim dan kondisi cuaca laut yang semakin sulit diprediksi menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan, terutama nelayan lanjut usia (lansia). Kondisi tersebut turut dikaji Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bengkulu (Unib) melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok nelayan Malabero, Kota Bengkulu.
FGD bertema “Kerentanan dan Adaptasi Nelayan Lansia Malabero Menghadapi Perubahan Iklim” tersebut digelar di kawasan Pantai Malabero, Jumat (28/8/2026). Kegiatan diikuti sekitar 15 nelayan lansia yang masih aktif menjalankan aktivitas melaut.
Diskusi dibuka dan dipandu Yessilia Osira, S.Sos., MP dari Universitas Bengkulu. Ia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya akademisi untuk memahami secara langsung kondisi, kerentanan, serta bentuk adaptasi nelayan lansia dalam menghadapi perubahan iklim.
“FGD ini merupakan salah satu upaya akademisi mengkaji dan memahami kerentanan dan adaptasi nelayan lansia dalam menghadapi perubahan iklim. Harapannya, hasil kajian ini dapat mendorong kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung bagi kelompok nelayan, khususnya nelayan lansia,” ujar Yessilia.
Dalam diskusi, para nelayan juga memaparkan pengetahuan lokal mengenai pola musim yang selama ini menjadi acuan dalam menentukan aktivitas melaut. Setidaknya terdapat tiga pengelompokan musim, yakni Musim Barat, Musim Tenggara dan Musim Utara.
Herman, salah seorang nelayan Malabero, menjelaskan Musim Barat biasanya berlangsung mulai Januari dan terkadang berlanjut hingga Mei. Musim tersebut ditandai angin yang cukup kuat dan curah hujan tinggi. Meski demikian, nelayan masih dapat melaut secara rutin ketika kondisi laut memungkinkan.
“Musim Angin Barat biasanya berlaku mulai bulan Januari, kadang sampai bulan Mei. Musim ini ditandai dengan angin kuat dan hujan, namun nelayan masih secara rutin dan normal dapat melakukan aktivitas melaut ke tengah laut,” katanya.
Sementara itu, Camuk, nelayan lainnya, mengatakan musim berikutnya dikenal sebagai Musim Tenggara yang berkaitan dengan musim kemarau. Kondisi laut pada periode tersebut dapat memengaruhi wilayah tangkapan dan jenis ikan yang diperoleh.
“Daerah dan jenis ikan yang tertangkap dapat berubah mengikuti perubahan arus, suhu air, dan kondisi laut. Secara umum, musim ini cukup rentan bagi nelayan untuk melaut,” jelasnya.
Nelayan lainnya, Zainal, menyebut Musim Utara sebagai periode yang memiliki risiko paling tinggi. Perubahan cuaca dan kondisi air laut yang cepat berubah membuat nelayan harus lebih berhati-hati dalam menentukan waktu melaut.
FGD juga mengungkap dampak perubahan cuaca terhadap kehidupan sosial dan ekonomi nelayan. Ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk melaut, nelayan kehilangan sumber pemasukan. Situasi tersebut dapat memicu tekanan psikologis dan persoalan dalam rumah tangga.
Selain itu, keterbatasan wilayah tangkapan ikan ketika kondisi laut buruk juga berpotensi memunculkan gesekan antarnelayan akibat perebutan lokasi mencari ikan.
Meski demikian, secara fisik perubahan cuaca dinilai belum terlalu berpengaruh terhadap kemampuan nelayan lansia dalam menjalankan aktivitasnya.
Untuk mengisi waktu ketika tidak dapat melaut, nelayan biasanya memperbaiki jaring dan kapal. Namun, apabila cuaca ekstrem berlangsung dalam waktu lama, mereka lebih banyak berkumpul di pinggir pantai sambil memantau kondisi laut dan menunggu cuaca kembali tenang.
Hasil FGD menunjukkan bahwa hingga kini nelayan Malabero masih minim memiliki alternatif kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan ketika tidak bisa melaut. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian penting untuk ditindaklanjuti melalui program pemberdayaan dan pengabdian masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan nelayan lansia.(Adek)















