Kepahiang, – Kopi lokal Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mulai menapaki pasar internasional. Hal itu ditandai dengan pelepasan ekspor perdana produk kopi lokal sebanyak sekitar 19,2 ton ke Itali dalam rangkaian kegiatan Pelepasan Ekspor Perdana Kopi Bengkulu dan Bincang Kopi.

Produk tersebut merupakan hasil pengembangan UMKM lokal yang menjadi binaan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu. Ekspor perdana ini dinilai menjadi momentum penting untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kopi daerah.
Owner Starbuck, Ardan, mengatakan kopi arabika menjadi salah satu produk unggulan yang terus dikembangkan. Selain arabika, pihaknya juga mengembangkan kopi robusta untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan karakter dan cita rasa yang beragam.
Menurut Ardan, kopi Sumatra sebenarnya telah memiliki nama besar di pasar dunia. Bahkan, kopi Sumatra yang dikumpulkan dari Medan dapat didistribusikan ke jaringan Starbucks di berbagai negara.
“Kopi Sumatra yang diambil dari Medan didistribusikan ke seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia,” ujar Ardan, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan, biji kopi yang dikumpulkan selanjutnya melalui proses pengolahan dan roasting sebelum didistribusikan ke berbagai jaringan pasar. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi rantai nilai industri kopi, dari komoditas pertanian hingga produk bernilai ekonomi tinggi.
Dalam kegiatan coffee tasting Karba Coffee, sejumlah produk kopi lokal turut diperkenalkan, di antaranya Pasar Coffee, Bermani Coffee, Roda Coffee, Lestari Coffee, Mister Coffee, dan Air Lanang Coffee.
Ardan menekankan, pengembangan bisnis kopi tidak cukup hanya mengandalkan kualitas biji. Teknik pengolahan dan penyeduhan juga menjadi bagian penting untuk menghasilkan cita rasa konsisten.
Dalam coffee tasting, salah satu faktor yang diperhatikan adalah proportion atau perbandingan kopi dan air. Sekitar 15 gram kopi digunakan untuk 270 mililiter air. Tingkat kehalusan gilingan atau grind juga memengaruhi proses ekstraksi dan cita rasa. Untuk metode French press, misalnya, digunakan gilingan lebih kasar.
Selain itu, kualitas air dan suhu penyeduhan turut menentukan hasil akhir. Suhu air yang direkomendasikan berada pada kisaran 91–96 derajat Celsius.
Bagi Bengkulu, ekspor perdana tersebut membuka peluang memperkuat ekosistem kopi dari hulu hingga hilir. Kopi tidak lagi sekadar komoditas pertanian, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, merek, kedai, hingga pasar global serta membuka pasar baru.(Raffa)















