Alaku
Alaku
Daerah  

Harga Bapok Naik Dan Bunga Cicilan Semakin Bertambah : Realita Kehidupan Masyarakat Menengah di Indonesia Semakin Tertekan

Cloud Hosting Indonesia

“Harga ayam sekarang cak itula bang Rp 35.000/Kg” ucap pedagang ayam potong pasar panorama

Begitula sebuah ucapan pedagang ayam potong di pasar panorama jika ditanya mengenai harga ayam potong sekarang. Harga ayam potong tersebut tak pernah lagi menyentuh di angka Rp 24.000/Kg.

Terakhir, harga ayam potong Rp 24.000/Kg terjadi saat tahun 2024 lalu atau tepatnya dua tahun lalu. Naiknya harga ayam potong ini di satu sisi menguntungkan para peternak dan pedagang.

Akan tetapi di satu sisi memberatkan konsumen pembeli ayam potong. Alasanya sangat jelas, kondisi naiknya harga ayam potong ini tak selaras dengan pemasukan harian kaum masyarakat menengah.

Secara hitungan kasar, harga kebutuhan pokok yang meningkat serta pemasukan harian para pekerja menengah yang “stag” dinilai tak sebanding dengan realita kebutuhan kehidupan sehari hari.

Jika kita melihat UMP Provinsi Bengkulu tahun 2026 sudah ditetapkan sebesar Rp2.827.250,90 angka tersebut dinilai kebutuhan ekonomi sehari hari selama satu bulan kalender jelas tak sebanding.

Penulis mencoba mengambil beberapa literasi yang membuat masyarakat kelas menengah saat ini tertekan. Terdapat sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa kelas menengah saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar.

Tak hanya sekedar masalah pemasukan bulanan masyarakat menengah yang “stag”. Beberapa tahun terakhir, masyarakat memang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok, mulai dari pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga perumahan.

Meskipun inflasi secara agregat relatif terkendali, kenyataannya terdapat sejumlah komponen pengeluaran rumah tangga yang meningkat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan dan ini menjadi faktor pertama mengapa kelas menengah semakin tertekan.

Faktor kedua berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar kerja. Transformasi ekonomi digital memang menciptakan peluang baru, tetapi juga menimbulkan disrupsi di berbagai sektor tradisional. Banyak pekerjaan yang dahulu dianggap stabil kini menghadapi risiko otomatisasi, efisiensi, atau restrukturisasi perusahaan.

Beban utang rumah tangga yang tinggi menjadi faktor ketiga yang memperberat keadaan. Rumah, kendaraan, pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan konsumsi sering kali dibiayai melalui kredit.

Ketika pendapatan tidak tumbuh sesuai harapan, cicilan menjadi beban yang semakin berat. Data dari Mandiri Institute menunjukkan bahwa mayoritas kelas menengah di Indonesia memiliki cicilan atau kewajiban pembayaran rutin.

Langkah utama yang harus diambil adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas. Indonesia tidak cukup hanya menciptakan banyak pekerjaan. Hal yang lebih penting adalah menciptakan pekerjaan dengan produktivitas dan upah yang memadai sehingga memungkinkan masyarakat naik kelas secara ekonomi.

Upaya tersebut harus dibarengi dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan. Transformasi digital akan terus mengubah struktur pasar kerja. Karena itu, investasi dalam pendidikan dan pelatihan menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Di samping itu, pemerintah wajib menjaga stabilitas harga kebutuhan dasar, sebab inflasi yang terkendali merupakan syarat penting untuk melindungi daya beli kelas menengah.(Yadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *