Fatkur Rohman, S.Pd.I., M.Pd.I
Penyuluh Agama Islam Non PNS KUA Kec. Singaran Pati Kota Bengkulu
Bengkulu, – Bayangkan sebuah gedung tinggi menjulang di tengah kota. Pagi hari, ia berdiri gagah, kaca-kaca masih berkilau terkena sinar matahari. Namun, siang menjelang, suara gaduh membuncah. Massa berteriak, amarah membara, dan tiba-tiba… wuuushhh! Api menyambar.
Gedung itu pun menangis.
Bukan hanya dinding beton yang runtuh, bukan hanya atap yang hangus. Lebih dari itu, ratusan hingga miliaran rupiah lenyap begitu saja. Dan yang lebih mahal dari uang: dokumen-dokumen penting ikut jadi abu. Surat tanah, akta lahir, ijazah, bahkan mungkin surat nikah orang tua kita yang disimpan rapi hilang tak berbekas.
Nah, coba bayangkan kalau yang terbakar itu adalah Kantor Urusan Agama (KUA). Tempat yang selama ini menjadi saksi lahirnya ribuan ikatan cinta, perjanjian suci antara dua insan. Dokumen nikah yang rapi tersimpan, data pernikahan, bahkan catatan sejarah keluarga… bisa lenyap dalam sekejap hanya karena bara amarah sesaat.
Masa depan sebuah bangsa itu dibangun dengan cinta dan kepercayaan, bukan dengan api yang melalap tanpa ampun. Kalau KUA sampai ikut terbakar, apa jadinya? Bayi-bayi yang baru lahir kehilangan jejak asal usul, pasangan suami-istri kesulitan membuktikan ikatan suci mereka, dan negara pun repot menambal lubang-lubang administrasi yang hilang.
Sungguh, membakar gedung itu sama saja dengan membakar harapan negeri.
Api memang bisa menghangatkan, tapi api amarah hanya akan meninggalkan abu penyesalan. Maka mari belajar, suara rakyat bisa disampaikan tanpa harus mengorbankan rumah harapan. Karena negeri ini sedang kita bangun bersama, bukan sedang kita bakar bersama.(Iwan)














