Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

Gajah Sumatera di Ambang Kepunahan Lokal, Saatnya Rakyat Bengkulu Bergerak

Cloud Hosting Indonesia

Bengkulu, – Ancaman kepunahan lokal terhadap gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat semakin nyata. Kondisi tersebut mendorong Koalisi Bentang Seblat bersama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu menggelar Elephant Camp 2026 dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia atau Global Elephant Day, sekaligus menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat pada 15-17 Agustus 2026 itu mengusung tema #GajahKita. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa keberadaan gajah Sumatera di Bentang Seblat bukan sekadar persoalan konservasi, melainkan tanggung jawab bersama.

Usai upacara bendera yang diikuti peserta kemah dan delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat, peserta membentuk formasi bersama gajah. Formasi tersebut menjadi simbol bahwa gajah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan harus mendapatkan ruang hidup yang aman.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan kondisi habitat gajah di Bentang Alam Seblat kini sangat memprihatinkan. Fragmentasi habitat, alih fungsi hutan, pembalakan, serta kasus kematian gajah diduga akibat racun menjadi ancaman serius bagi populasi satwa dilindungi tersebut.

Menurut Koalisi Bentang Seblat, populasi gajah liar yang tersisa di kawasan itu kini kurang dari 50 ekor dan tersebar di dua kantong habitat, yakni Air Rami dan Air Teramang, Kabupaten Mukomuko. Dari sekitar 80.978 hektare kawasan inti Bentang Seblat, sekitar 30.017 hektare disebut telah berubah menjadi perkebunan sawit.

“Populasi gajah yang tersisa kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,” ujar Ali.

Ali juga menyoroti kematian induk gajah berusia sekitar 25 tahun dan anaknya yang berusia dua tahun pada 30 April 2026. Berdasarkan hasil uji toksikologi laboratorium IPB yang diterima BKSDA Bengkulu, ditemukan sejumlah senyawa kimia dalam tubuh kedua gajah tersebut.

Koalisi mendesak Kementerian Kehutanan meningkatkan status perlindungan Bentang Alam Seblat menjadi kawasan suaka margasatwa seluas sekitar 80 ribu hektare. Mereka menilai perubahan status diperlukan untuk memperkuat perlindungan habitat dan memastikan keberlangsungan populasi gajah.

Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho, menyebut populasi gajah di Bengkulu diperkirakan tersisa 25-30 ekor, dengan sekitar 10 ekor merupakan gajah binaan di TWA Seblat. Ia mengatakan gajah liar masih berkembang biak, namun ancaman berkurangnya tutupan hutan dan konversi kawasan menjadi perkebunan harus segera dicegah.

“Jika terus terjadi, populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah,” kata Agung.

Koordinator PLG Seblat, Johansyah, mengatakan Elephant Camp menjadi sarana edukasi sekaligus bentuk dukungan masyarakat terhadap keberlanjutan konservasi gajah.

Selain berinteraksi dengan gajah binaan, peserta mengikuti susur hutan dan mengenal keanekaragaman hayati Bentang Seblat. Peserta Bela Wilianti mengaku menemukan berbagai jenis serangga dan tumbuhan, termasuk pohon meranti yang terancam punah.

Sementara peserta lainnya, Pinka, menyebut pengalaman melihat gajah secara langsung menjadi pengalaman berharga. “Keberadaan gajah sangat penting dan mereka berhak mendapatkan ruang hidup yang aman,” ujarnya.

Gajah sendiri memiliki peran penting sebagai penyebar benih alami yang membantu regenerasi hutan. Karena itu, menyelamatkan gajah berarti turut menjaga keseimbangan ekosistem Bentang Seblat. #GajahKita pun menjadi seruan agar perlindungan satwa tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan bersama seluruh masyarakat Bengkulu.(Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *