Alaku
Alaku
Alaku

Kolaborasi Pemerintah dan Sekolah Swasta Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Bermutu dan Karakter Bangsa

Cloud Hosting Indonesia

Depok, Jawa Barat, – Pendidikan bermutu untuk semua tidak hanya ditentukan oleh fasilitas dan capaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan membentuk karakter, integritas, dan kepedulian kebangsaan peserta didik. Semangat itulah yang kembali ditegaskan dalam peresmian Sekolah Bakti Mulya 400 Depok, Jawa Barat, yang menandai pentingnya kolaborasi pemerintah dan sekolah swasta dalam memperkuat ekosistem pendidikan nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara pendidikan swasta yang dinilai turut memperkuat layanan pendidikan berkualitas bagi masyarakat. Ia mengatakan bahwa tantangan pendidikan di Indonesia sangat beragam sehingga membutuhkan dukungan dan kerja sama seluruh pihak.

“Realitas pendidikan di Indonesia ini memang ada sekolah yang megah, ada sekolah yang muridnya banyak, tetapi ada juga beberapa sekolah yang pendaftarnya satu,” ujar Menteri Mu’ti di Depok (23/5).

Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun pendidikan yang inklusif, saling menguatkan, dan tetap berorientasi pada mutu pembelajaran bagi seluruh peserta didik. Selain itu, Menteri Mu’ti juga menegaskan posisi sekolah swasta sebagai bagian penting dalam sistem pendidikan nasional.

Ia menyebut sekolah swasta dan pemerintah perlu terus berjalan beriringan untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan. “Saya sering mengatakan jika sekolah swasta adalah mitra pemerintah,” tegasnya.

Menteri Mu’ti menambahkan jika semangat saling memperkuat antarpenyelenggara pendidikan sejalan dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menjamin hak setiap warga negara memperoleh pendidikan bermutu. “Sebagaimana disebutkan di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu,” ujarnya.

Karena itu, ia menuturkan jika seluruh sekolah memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghadirkan pendidikan berkualitas dan membangun karakter peserta didik. “Apakah sekolah itu sekolah elite atau sekolah yang sederhana, semuanya haruslah sekolah yang bermutu dan sekolah yang memiliki kualitas,” lanjutnya.

Ia juga mengapresiasi pendekatan pendidikan yang dikembangkan Sekolah Bakti Mulya 400 karena tidak hanya menyiapkan kompetensi peserta didik, tetapi juga memperkuat nilai dan kepribadian Indonesia. “Kami berterima kasih kepada Bakti Mulya 400 yang telah memberikan model pembelajaran yang berkualitas pada kepribadian Indonesia,” katanya.

Dalam arah kebijakan pendidikan nasional, Menteri Mu’ti juga menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat ekosistem pendidikan melalui revitalisasi sarana prasarana, digitalisasi sekolah, serta peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru. Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk memastikan pemerataan mutu pendidikan di seluruh satuan pendidikan.

Ia menyampaikan jika pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif semata, tetapi harus membentuk karakter dan integritas peserta didik. “Pendidikan tidak hanya proses untuk mendidik anak-anak bangsa ini pandai mengerjakan soal atau keterampilan teknokratik, tapi juga harus membentuk integritas, nasionalisme, dan komitmen untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Di akhir sambutan, Menteri Mu’ti menyampaikan pesan bahwa pendidikan berkualitas menjadi kunci dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia yang kuat dan bermartabat. “Presiden Prabowo berkali-kali menegaskan pentingnya Indonesia memiliki generasi yang unggul, generasi yang kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang bermartabat. Pilihannya adalah pendidikan yang berkualitas,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Chief Executive Officer (CEO) Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin, menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Bakti Mulia 400 Depok dirancang untuk membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan jati diri kebangsaan. “Ada tiga capaian besar BM 400 yaitu membentuk generasi religius, nasionalis, dan internasionalis,” ujarnya.

Sutrisno menjelaskan bahwa nilai religius tidak berhenti pada ritual ibadah, tetapi diwujudkan dalam pembentukan akhlak, integritas, kejujuran, disiplin, dan empati yang menjadi dasar perilaku sehari-hari peserta didik. Sementara itu, nilai nasionalisme ditanamkan agar siswa memiliki kesadaran kuat untuk mencintai dan berkontribusi bagi Indonesia. “Nasionalis di Bakti Mulya 400 adalah kesadaran bahwa pendidikan bertujuan menyiapkan generasi yang mencintai, memahami dan berkontribusi bagi Indonesia,” katanya.

Tak hanya itu, Sutrisno menyampaikan jika dimensi internasional dipahami sebagai kesiapan menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri bangsa. “Internasionalis bukan berarti kebarat-baratan tetapi kesiapan untuk menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri,” tutur Sutrisno.(Raffa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *