Bengkulu, – Malam ini, Timnas Indonesia akan menghadapi raksasa Asia, Jepang, dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, jauh sebelum peluit dibunyikan, satu nama sudah menggema di hati rakyat: Ole Romeny.
Ia bukan hanya mencetak gol penentu ke gawang China yang membawa Indonesia lolos ke putaran keempat. Ia mencetak sejarah. Ia membangkitkan harapan. Saat tendangannya mengoyak jaring, jutaan dada serempak bergetar—bukan karena skor, tapi karena harga diri bangsa seolah kembali pulang.
Lahir di Nijmegen, Belanda, pada 20 Juni 2000, Ole Lennard ter Haar Romenij tumbuh jauh dari tanah leluhurnya. Tapi darah Aceh dan Medan yang mengalir di tubuhnya tak pernah padam. Saat ia memutuskan meninggalkan Timnas Belanda yang telah membesarkannya sejak level junior, itu bukan pilihan mudah. Tapi itulah suara jiwa. Suara tanah kelahiran kakek-neneknya yang memanggil pulang.
Ole membuktikan, cinta tak butuh alasan panjang. Tiga pertandingan pertamanya bersama Garuda—tiga gol. Cepat, dingin, dan mematikan. Tapi yang paling membekas bukan statistiknya, melainkan sikapnya. Ia menyanyikan “Indonesia Raya” dengan mata berkaca-kaca. Ia merayakan gol dengan mengepalkan tangan ke langit, seolah berkata, “Ini untuk kalian.”
Dalam dunia sepak bola kita yang sering penuh skeptisisme, seminar, dan wacana tak berujung, datanglah seorang Romeny. Diam, bekerja, mencetak. Ia bukan hanya striker. Ia adalah simbol bahwa kejayaan bisa datang dari mereka yang memilih pulang. Bahwa yang asing bisa menjadi bagian, ketika cinta pada bangsa begitu tulus.
Hari itu, Ole tak hanya mencetak gol. Ia mencetak bab baru dalam kisah bangsa. Kini, ia bukan milik Belanda. Ia milik kita semua—Romeny, anak Indonesia yang kembali untuk menyatukan mimpi-mimpi kita yang pernah tercerai.
Dan malam ini, siapa tahu, sejarah akan kembali ia tulis.(Iwan)















