Khutbah Jum’at
Oleh – Fatkur Rohman
الحمد لله الذي أمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، ونهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, agar kita selamat dunia dan akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Bulan ini bangsa kita merayakan kemerdekaan yang ke-80. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, bukan hadiah dari penjajah. Di Bengkulu, kita mengenal tokoh seperti Ibu Fatmawati Soekarno, penjahit bendera pusaka pertama, hingga para pejuang lokal yang namanya tak tercatat di buku sejarah, tetapi amalnya tercatat di sisi Allah.
Allah ﷻ memerintahkan kita menjaga persatuan dan kemerdekaan:
> وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Pepatah Bengkulu
> “Sekundang setungguan, sehidup semati, ringan samo dijinjing, berat samo dipikul.”
Artinya: kita ini satu kampung, satu saudara; ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
Inilah makna nasionalisme dari sudut pandang lokal: saling membantu, menjaga kampung, menjaga negeri.
Dulu di sebuah kampung pesisir, ada nelayan tua bernama Pak Daud. Ketika badai menghancurkan perahu-perahu warga, ia berkata:
“Kalau perahu hilang, kita bisa buat lagi. Kalau kampung tenggelam, kita bisa timbun kembali. Tapi kalau semangat kita hilang, kita tidak akan bangkit lagi.”
Kalimat ini membangkitkan warga untuk kembali ke laut dan membangun kampungnya.
Jamaah sekalian, di tengah kota kita ada Pasar Panorama. Kalau kita perhatikan, pasar ini penuh warna kehidupan. Ada pedagang sayur, ikan, kain, bumbu, semua datang dari berbagai daerah Rejang, Serawai, Lembak, Minang, Jawa, Bugis berbeda bahasa, adat, dan kebiasaan, tapi di pasar itu semua bersatu untuk saling menghidupi.
Pagi-pagi, pedagang saling sapa: “Pagi buk, laris manis ye…” Walau bersaing jualan, mereka tetap berbagi info harga, saling pinjam timbangan, bahkan ada yang saling titip dagangan.
Itulah miniatur Indonesia berbeda suku, agama, dan budaya, tapi saling menopang untuk hidup bersama.
Kalau pasar saja bisa rukun, apalagi kampung dan negeri kita. Persatuan ini harus dijaga seperti kita menjaga keberlangsungan pasar bersih, jujur, dan penuh semangat gotong royong.
Ma’asyiral Muslimin,
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan cinta tanah air. Saat beliau harus meninggalkan Makkah untuk hijrah, beliau berkata:
> “Demi Allah, engkau (wahai Makkah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Kalau bukan karena kaummu mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu.” (HR. Tirmidzi)
Maka di usia kemerdekaan ini, cintai negeri kita dengan iman, akhlak, dan kerja nyata.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى.
Ma’asyiral Muslimin,
Mari kita isi kemerdekaan dengan:
1. Memperkuat iman dan takwa
2. Menjaga kerukunan antarwarga
3. Bersikap jujur, amanah, anti korupsi
4. Menghidupkan gotong royong seperti di Pasar Panorama
5. Mendoakan para pahlawan
Doa:
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلادَنَا، وَانْشُرْ فِيهَا الأَمْنَ وَالأَمَانَ، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنَ الخَيْرَاتِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَوْطَانِنَا، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا يَأْتِيهِ رِزْقُهُ رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ.(**)















