Bengkulu – Inovasi pertanian berbasis teknologi mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Kepahiang. Penerapan green house smart farming yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) memasuki tahap panen perdana cabai keriting di Desa Bukit Barisan, Kecamatan Merigi.
Panen perdana tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pertanian konvensional menuju sistem budidaya modern yang lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan cuaca.
Keberadaan rumah kaca pintar tersebut menjadi salah satu solusi terhadap persoalan ketidakpastian cuaca yang selama ini dihadapi petani. Perubahan musim dan kondisi cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi cabai, baik akibat kekurangan air saat kemarau maupun tingginya curah hujan yang berpotensi menyebabkan pembusukan tanaman dan buah.
Melalui sistem green house, kondisi lingkungan tanaman dapat dikendalikan secara lebih optimal sehingga proses budidaya tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca di luar rumah kaca.
Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata mengatakan penerapan teknologi pertanian tersebut harus menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan petani dalam menghadapi perubahan iklim.
“Dengan sistem ini, petani tidak perlu terlalu khawatir terhadap kondisi cuaca. Saat panas, tanaman tetap mendapatkan pengelolaan air yang sesuai, sedangkan ketika hujan, tanaman lebih terlindungi,” ujar Zurdi Nata.
Keunggulan green house tersebut semakin diperkuat dengan penerapan teknologi Internet of Things (IoT). Sistem digital memungkinkan sejumlah aktivitas budidaya tanaman dikendalikan dengan lebih praktis menggunakan perangkat elektronik.
Pengaturan penyiraman, pemupukan hingga pemantauan kebutuhan tanaman dapat dilakukan melalui gawai. Teknologi tersebut memberikan kemudahan bagi petani dalam melakukan pengawasan tanpa harus selalu berada di lokasi.
Sistem otomatis juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Sejumlah aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu teknologi sehingga petani dapat mengelola proses budidaya dengan lebih terukur.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kepahiang, panen perdana cabai keriting ini menjadi indikator awal bahwa pertanian berbasis teknologi memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas. Tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas, sistem tersebut juga membuka peluang penerapan pola budidaya yang lebih efisien dan terukur.
Bupati juga mengingatkan Kelompok Tani Bukit Tani selaku pengelola agar menjaga dan memanfaatkan fasilitas green house dengan penuh tanggung jawab.
“Jaga dan manfaatkan fasilitas ini dengan sungguh-sungguh. Ini bukan hanya sebuah bangunan, tetapi bagian dari masa depan pertanian kita. Harapannya, produksi meningkat dan kesejahteraan petani ikut tumbuh,” tegasnya.
Panen perdana ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kepahiang dan Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan sektor pertanian.
Ke depan, penguatan kapasitas petani, pemanfaatan teknologi, pengelolaan produksi serta pengembangan pasar menjadi bagian penting agar inovasi tersebut mampu memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan.
Dengan hadirnya green house smart farming berbasis IoT, Kabupaten Kepahiang mulai membangun fondasi pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Inovasi di Desa Bukit Barisan diharapkan menjadi contoh bahwa teknologi dapat dipadukan dengan kemampuan petani untuk menciptakan sistem produksi yang lebih efisien, tangguh dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(Raffa)














