Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

“Seimbang Antara mengejar Akhirat dan Dunia, Jangan Tamak dan Rakus Saat Kau Buka Tambang Emas di Seluma”

Cloud Hosting Indonesia

Oleh – Fatkur Rohman, M.Pd.I
Penyuluh Agama Islam Non-PNS Kementerian Agama Kota Bengkulu

إِنَّ الْـحَمْدَ لِلَّهِ، نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada waktu dan tempat yang istimewa ini, saya mengajak kepada kita semua, dan tidak lupa mengingatkan diri saya sendiri sebagai khatib, marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Takwa dalam arti yang sebenarnya adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada kelebihan seseorang di atas yang lainnya kecuali dengan ketakwaan.

Dunia ini hanyalah sementara, bukan tempat tinggal abadi. Maka janganlah kita tamak dan rakus, mengejar dunia seakan-akan kita hidup selamanya. Harta, jabatan, dan kekuasaan hanyalah titipan. Jangan sampai karena dunia, kita lupa akhirat.

“Ibadallah, rahimakumullah…
Marilah kita bertakwa kepada-Nya, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.”

Larangan Tamak dan Rakus dalam Al-Qur’an
Surah At-Takatsur (102:1-2)
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia disibukkan oleh kecintaan kepada dunia, harta, dan kekuasaan hingga mereka lupa bahwa kematian datang tiba-tiba. Ini adalah bentuk ketamakan yang melalaikan.

Surah Al-Humazah (104:2-3)
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ ۝ الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ ۝ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Artinya:
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”
Sifat rakus membuat manusia pelit dan sombong. Ia menyangka bahwa kekayaan bisa menyelamatkannya dari kematian. Padahal, semua akan binasa.

Surah Al-Fajr (89:17–20)
كَلَّا بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ۝ وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا ۝ وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Artinya:
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan rakus, dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”

Bahaya Tamak dan Rakus
Menghilangkan Rasa Syukur
Orang yang tamak tidak pernah puas. Harta sebanyak apapun terasa kurang. Akhirnya, hidupnya gelisah dan jauh dari ketenangan.

Membuka Jalan Korupsi dan Ketidakadilan
Rasa rakus membuat orang menghalalkan segala cara: menipu, mengambil hak orang lain, bahkan berbuat zalim.

Melupakan Akhirat
Tamak terhadap dunia membuat orang enggan beribadah, pelit bersedekah, dan tidak peduli terhadap sesama.

Solusi Islam: Sifat Qana’ah dan Zuhud
Qana’ah: Merasa cukup dengan rezeki yang ada, tidak tergila-gila pada dunia.

Zuhud: Menggunakan dunia untuk akhirat, bukan untuk kesombongan dan kemewahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita tanamkan dalam hati pepatah orang tua kita di Bengkulu:

“Bere secupak, ikan sejere, madar.”
(Dapat beras secupak, ikan seikat, cukup untuk dimasak dan dinikmati.)

Maknanya: Syukuri apa yang ada, jangan rakus mengejar dunia. Karena rakus hanya akan menjerumuskan manusia pada kehancuran, baik pribadi maupun lingkungan.

Namun—ingatlah juga, Islam tidak melarang kita untuk mengelola dunia. Justru dunia adalah ladang amal, tempat kita menanam, yang hasilnya akan dipanen di akhirat.

Maka jangan salah paham. Bukan berarti kita menolak dunia, bukan pula anti pembangunan. Justru Islam mengajarkan keseimbangan: memanfaatkan dunia dengan cara yang halal, adil, dan tidak merusak.

Kalau di bumi Merah Putih ini, terutama di tanah Bengkulu, tersimpan tambang emas, kekayaan alam, potensi energi dan hasil bumi, maka:

Mari kita kelola dengan niat baik, cara yang baik, dan untuk tujuan yang baik.
Bukan untuk memperkaya segelintir orang, tapi untuk kemaslahatan umat dan pembangunan Bengkulu yang berkeadilan.

Tambang emas tidak salah — yang salah adalah keserakahan.
Harta bukan musuh — yang menjadi musuh adalah manusia yang dikuasai nafsu duniawi.

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan jangan kamu lupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)

Maka mari kita rawat bumi ini dengan hati yang bersih, tangan yang jujur, dan akhlak yang mulia. Dunia ini ladang, akhirat tempat panen. Jangan sampai rakus kita membuat tanah subur menjadi gersang.
Jamaah sekalian,
Marilah kita koreksi diri kita. Jangan sampai kita menjadi hamba dunia, lupa bahwa hidup kita hanya sementara. Dunia ini bukan tempat tinggal, tapi tempat singgah.

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, dan kefakiran akan selalu berada di depan matanya.” (HR. Tirmidzi)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Khutbah Kedua
ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ، نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى ٱللَّهِ خَيْرُ زَادٍ يَوْمَ ٱلْمِيعَادِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ، إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الزَّاهِدِينَ فِي الدُّنْيَا، الرَّاغِبِينَ فِي الآخِرَةِ، وَاجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لِأَهْلِنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَانْصُرْ وَلَاةَ أُمُورِنَا وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *