Curup, – Keluhan masyarakat soal sulitnya mendapatkan LPG 3 kilogram atau gas melon di Kabupaten Rejang Lebong kembali mencuat. Namun pemerintah daerah menegaskan, persoalan ini bukan disebabkan kelangkaan stok, melainkan distribusi yang diduga bocor dan tidak tepat sasaran.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Rejang Lebong, Anes Rahman, S.Sos, menyebutkan bahwa pasokan gas melon ke wilayah ini sejatinya dalam kondisi aman, termasuk menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Ia memaparkan, saat ini terdapat tiga agen penyalur LPG 3 kg di Rejang Lebong. Setiap truk mengangkut sekitar 560 tabung gas. Agen PCL menyalurkan 5 truk per hari pada hari kerja, Agen Karjan Jaya 6 truk per hari, Agen Elisa Meriani 2 truk per hari. Ditambah lagi dari PT Ritel dengan 1 truk setiap dua hari. Meski begitu, Anes menegaskan bahwa distribusi tidak dilakukan pada hari Minggu dan tanggal merah.
“Kalau melihat angka distribusi, stok itu cukup. Yang jadi masalah adalah penyalurannya,” ujar Anes.
Ia mengungkapkan, pihaknya juga menemukan masih banyak penyalahgunaan LPG bersubsidi, terutama gas melon yang dijual ke warung berkapasitas besar dan pelaku usaha, termasuk usaha laundry, yang seharusnya dilarang menggunakan LPG 3 kg.
“Gas melon ini jelas peruntukannya. Kalau dijual ke usaha yang tidak berhak, itu pelanggaran,” tegasnya.
Sepanjang tahun 2025, Disperindagkop telah mengeluarkan belasan surat peringatan kepada pangkalan yang melanggar. Bahkan, lima pangkalan resmi telah dicabut izinnya akibat tetap membandel dalam pendistribusian LPG bersubsidi.
Disperindagkop sendiri mengakui masih banyak masyarakat yang belum terdaftar di pangkalan terdekat, yang ikut memicu kesan kelangkaan di tengah warga. Meski demikian, Anes memastikan pengawasan akan terus diperketat dan sanksi tegas akan diberikan kepada pangkalan yang melanggar.
“Kalau masih ada yang coba-coba bermain, sanksinya jelas, mulai dari peringatan sampai pencabutan izin,” tegas Anes.
Disisi lain, meskipun pemerintah mengklaim bahwa suplai gas masih mencukupi, namun kondisi di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Sejumlah warga mengaku tetap kesulitan mendapatkan gas, bahkan harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain.
Salah seorang warga Kelurahan Pelabuhan Baru Kecamatan Curup, Zubaidah (42), menilai klaim stok aman tidak sejalan dengan kondisi yang dialami masyarakat. Ia menyebut persoalan gas melon selalu berulang dan menimbulkan kecurigaan adanya permainan dalam distribusi.
“Kalau stok aman tapi rakyat tetap susah, itu namanya ada yang tidak beres. Pemerintah seharusnya berani bongkar siapa yang bermain, bukan cuma mengeluarkan imbauan,” tegas Zubaidah.
Menurutnya, imbauan agar masyarakat tidak panic buying tidak akan efektif selama sistem distribusi belum dibenahi secara serius. “Warga bukan mau panik, tapi ini kebutuhan dapur. Kalau distribusinya beres dan tepat sasaran, kami juga tidak perlu keliling cari gas,” singkatnya.(arie)















