Penulis: Marlia Ayu Riyanti
Purbalingga – Di tengah tren anak muda yang lebih memilih bekerja di kantor atau mengejar karier digital, Muzakki Lazuardy justru mengambil jalan berbeda. Pemuda asal Desa Karangnangka, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini membuktikan bahwa bertani bisa menjadi profesi yang menjanjikan jika dikelola secara modern dan inovatif.
Setelah lulus dari MAN Purbalingga, Muzakki melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Alih-alih mencari pekerjaan kantoran, ia memutuskan untuk membangun usaha pertanian sendiri. Berbekal modal Rp 20 juta dari hasil kerja sebelumnya, pada tahun 2019 ia mendirikan Okazakki Farm, sebuah usaha pertanian modern berbasis sistem hidroponik.
Berbeda dari pertanian konvensional, sistem hidroponik yang digunakan Muzakki memanfaatkan air dan nutrisi tanpa tanah. Metode ini efisien, hemat lahan, dan sangat cocok diterapkan di area sempit. Kini, lahan hidroponik miliknya telah berkembang dua kali lipat dari ukuran awal dan digunakan untuk menanam berbagai jenis sayuran seperti selada, pakcoy, sawi, serta buah melon.
Nama “Okazakki Farm” diambil dari kata “edamame” yang dulu pernah dijualnya, digabung dengan namanya sendiri, sebagai identitas usaha. Produk-produk hasil tanamannya kini dipasarkan ke berbagai swalayan dan restoran di wilayah Purbalingga dan Banyumas.
Dengan dukungan tiga karyawan tetap dan beberapa pekerja harian, Okazakki Farm berhasil mencatat omzet hingga Rp 20 juta per bulan. Kesuksesan ini pun menarik perhatian Kementerian Pertanian. Pada tahun 2025, Muzakki terpilih sebagai salah satu dari 26 anak muda penerima gelar Young Ambassador Agriculture (YAA) melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Penghargaan ini diberikan kepada pemuda-pemudi yang dinilai mampu menjadi agen perubahan di sektor pertanian.
Prestasi ini tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tapi juga memacu Muzakki untuk berbagi ilmu. Ia aktif mengedukasi pelajar, masyarakat umum, dan petani lokal tentang pertanian hidroponik. Selain itu, ia juga bermitra dengan Pusat Inkubator Bisnis LPPM Universitas Jenderal Soedirman untuk memperluas jangkauan Okazakki Farm ke desa-desa lain di Purbalingga.
Muzakki ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian. Baginya, bertani bukan pekerjaan kotor dan tertinggal zaman. Dengan teknologi dan semangat belajar, pertanian bisa menjadi bidang yang modern, menguntungkan, dan membanggakan. Kisahnya menjadi bukti bahwa dari desa kecil pun, anak muda bisa membangun usaha mandiri yang inspiratif.(**)















