Jakarta, – Angka gaji Rp133 juta per bulan mungkin terdengar fantastis bagi sebagian besar orang. Namun bagi Herdi Alrizki (52), nominal tersebut menyimpan cerita panjang tentang pengorbanan, jarak, dan cinta seorang anak kepada ibunya. Warga asli Pondok Labu, Jakarta Selatan ini telah tiga tahun terakhir menjalani hidup dengan ritme tak biasa: enam bulan bekerja di lepas pantai Australia Barat, enam bulan kembali ke rumah.
Herdi berprofesi sebagai hyperbaric welder atau pengelas bawah laut, salah satu pekerjaan paling berisiko di dunia industri migas. Tugasnya memperbaiki struktur anjungan minyak dan pipa di dasar laut dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Selama berbulan-bulan, dunianya adalah kapal support dan saturation chamber bertekanan tinggi yang membawanya jauh dari kehidupan normal.
Namun, cerita Herdi bukan semata soal bahaya kerja. Di balik helm las dan dentuman mesin di kedalaman laut, pikirannya selalu pulang ke dapur rumah ibunya, Rika (78). Di tengah sunyi yang berisik di dasar samudra, Herdi mengingat suara gesekan wajan, denting piring, dan aroma masakan sederhana sang ibu. Kenangan itu menjadi penguat mentalnya menghadapi tekanan laut dan kesendirian.
Penghasilan besar yang ia peroleh digunakan Herdi sepenuhnya untuk memastikan ibunya hidup layak. Mulai dari memperbaiki rumah, mengganti perabot, hingga menyewa perawat yang menemani sang ibu beraktivitas. Namun bagi Herdi, nilai termahal bukanlah materi, melainkan enam bulan kesempatan untuk berada di rumah dan menggantikan posisi ibunya di dapur.
Setiap kali berangkat, sang ibu selalu membekalinya kantong kecil berisi biji selasih untuk dicampur minum. Benda sederhana itu menjadi simbol rumah, kasih sayang, dan alasan Herdi bertahan di kedalaman laut.
“Ini cara terbaik saya membalas jasa ibu,” ujar Herdi. Di balik gaji ratusan juta, ada waktu yang dikorbankan demi satu tujuan sederhana: memastikan senyum dan suara dapur di Pondok Labu tetap hidup.(Net)















