Bengkulu, – Di siang yang cerah, Iin tampak sibuk melayani pelanggan di warung sederhananya di D6 Ketahun, Bengkulu Utara. Suara motor yang melintas sesekali terdengar, namun kali ini tidak lagi dibarengi dengan gemuruh truk besar yang memekakkan telinga seperti dulu. Ada perubahan yang jelas terasa di sini—jalan-jalan yang sebelumnya penuh lubang kini sudah mulus, seolah membawa kehidupan baru bagi masyarakat sekitar.
“Dulu, kalau truk lewat, suaranya bikin kepala pusing. Berisik sekali,” kenang Iin sambil tersenyum.
“Sekarang, setelah jalan diperbaiki, lebih tenang. Saya yang punya warung juga ikut senang, pelanggan datang lebih banyak karena akses jadi lancar.”
Kisah serupa juga datang dari Jayadi, pemilik bengkel kecil tak jauh dari warung Iin. Baginya, perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah, khususnya di bawah kepemimpinan Gubernur Rohidin, bukan hanya soal infrastruktur, melainkan soal kepedulian terhadap masyarakat transmigrasi yang sudah lama merasa terisolasi.
“Kami di sini mayoritas transmigran,” kata Jayadi sambil memoles velg motor pelanggannya.
“Dulu kami merasa jauh dari perhatian. Tapi sekarang, lihatlah jalan ini, mulus dan nyaman. Terima kasih sekali pada Pak Gubernur yang sudah peduli dengan kami yang tinggal di pelosok.”
Bagi masyarakat Bengkulu Utara, perbaikan jalan ini bagaikan angin segar yang membawa harapan baru. Jalan provinsi yang melintasi beberapa desa di wilayah ini sebelumnya tak ubahnya rintangan besar bagi aktivitas warga. Namun, kini, berkat proyek pembangunan yang diinisiasi Gubernur Rohidin, jalan-jalan itu menjadi mulus, mempermudah segalanya—dari perdagangan hingga pendidikan.
Di Tanah Hitam, misalnya, proyek peningkatan jalan sepanjang 2,4 kilometer sedang dalam tahap penyelesaian. Dengan anggaran sebesar Rp 8,6 miliar, proyek ini digarap oleh CV. Dio Pratama, dan dijadwalkan rampung dalam 180 hari. Bukan hanya di Tanah Hitam, ruas jalan Batik Nau – Lubuk Banyau pun mendapat perhatian, dengan nilai proyek Rp 10 miliar, yang progresnya sudah mencapai 50 persen.
Namun, perubahan terbesar mungkin dirasakan oleh Alifiah, seorang pelajar SMA Negeri 9 Bengkulu Utara. Baginya, jalan mulus ini membawa rasa aman saat pergi ke sekolah.
“Dulu, kalau mau ke sekolah, banyak teman yang jatuh karena jalan rusak. Sekarang, kami bisa berangkat dengan tenang. Belajar juga jadi lebih semangat,” tuturnya dengan senyum lebar.
Perbaikan jalan ini memang bukan hanya soal aspal dan beton, tapi tentang bagaimana kehidupan warga Bengkulu Utara berubah. Senyum-senyum kecil yang terpancar dari Iin, Jayadi, dan Alifiah adalah bukti nyata dari dampak besar yang dihadirkan oleh pembangunan infrastruktur ini.
Gubernur Rohidin, dengan kebijakannya yang menitikberatkan pada peningkatan aksesibilitas, sekali lagi menunjukkan bahwa perhatian terhadap pelosok bukan hanya janji kosong.
Bagi masyarakat transmigrasi Bengkulu Utara, jalan mulus ini adalah jembatan menuju harapan baru, yang menghubungkan mereka dengan dunia luar dan membuka peluang lebih besar bagi masa depan yang lebih cerah.(Iwan)















