Bengkulu, – Owner MR Group, Ir. Marwan Ramis, mendorong masyarakat dan pelaku usaha di Bengkulu mengubah pola pikir dalam mengembangkan bisnis. Menurutnya, usaha di era modern tidak lagi cukup hanya mengandalkan modal dan mengejar keuntungan, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah atau added value.
Marwan menjelaskan, selama ini banyak orang menganggap modal sebagai syarat utama untuk memulai usaha. Padahal, menurutnya, kemampuan membaca peluang, memahami sistem dan menghubungkan berbagai subsistem justru menjadi modal penting dalam bisnis modern.
“Modal itu sekarang sudah berubah. Yang pertama adalah pengolahan otak, bagaimana kita melihat peluang dan memahami sistem,” kata Marwan.
Ia menilai keuntungan atau profit seharusnya tidak menjadi satu-satunya orientasi dalam membangun usaha. Pelaku usaha perlu melihat bagian yang lebih besar, yakni bagaimana menciptakan nilai tambah dari sebuah sistem sehingga keuntungan dapat terbentuk sebagai bagian dari proses tersebut.
Marwan mencontohkan pola bisnis jaringan ritel yang mampu menghubungkan produsen, distributor, gerai dan konsumen dalam satu sistem. Menurutnya, kekuatan model tersebut bukan hanya pada besarnya margin dari setiap produk, tetapi pada kemampuan mengelola volume, distribusi dan kesinambungan sistem secara terintegrasi.
Pola serupa, kata Marwan, sebenarnya dapat diterapkan di daerah dengan mengoptimalkan potensi yang sudah tersedia. Pelaku usaha tidak selalu harus memiliki seluruh modal dan sarana produksi sendiri, tetapi dapat membangun kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki sumber daya berbeda.
“Yang diperlukan sekarang adalah wawasan, kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan. Kita tidak harus memiliki semuanya, tetapi harus memahami subsistemnya dan bagaimana menyinkronkannya,” ujarnya.
Marwan juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kreatif, inovatif hingga advance dalam menghadapi perubahan teknologi. Ia menyebut perkembangan teknologi informasi membuat proses bisnis berlangsung jauh lebih cepat sehingga pola pengambilan keputusan yang terlalu lama berisiko membuat pelaku usaha tertinggal.
Menurutnya, masyarakat Bengkulu perlu mulai melihat potensi ekonomi daerah secara lebih terintegrasi, termasuk pada sektor kopi. Ia menilai Bengkulu memiliki peluang membangun identitas kopi daerah, tetapi hal tersebut membutuhkan standar produk, bahan baku, racikan, penyajian, kemasan hingga promosi yang disusun secara bersama.
“Jangan sampai muncul produk kopi Bengkulu, tetapi bulan depan tutup. Subsistemnya harus kita sinkronkan, mulai dari sumber kopinya, racikan, gula aren, gelas, cara penyajian sampai branding,” jelasnya.
Marwan menilai pendekatan tersebut dapat diterapkan pada berbagai sektor ekonomi daerah. Dengan memahami hubungan antarsubsistem dan menciptakan nilai tambah pada setiap bagian, masyarakat tidak hanya menjadi pelaku ekonomi yang menjual produk, tetapi dapat ikut membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.(Raffa)















