Alaku
Alaku
Alaku
Daerah  

Kisah Achmad Fadian Saksi Mata Pilu dan Mencekamnya Banjir Bandang Yang Hantam Puluhan Rumah di Lebong

Cloud Hosting Indonesia

Terakhir Terjadi Tahun 1995 Silam, Sungai Yang Tenang Meluap Terjang Rumah Warga

Topos, Lebong – Selasa, 16 April 2024, menjadi hari yang tidak akan saya lupakan. Apalagi, mendengar suara jeritan ratusan warga Desa Talang Donok, Kec. Topos, Kab. Lebong melihat sungai yang biasanya begitu tenang, seketika menjadi sangat ganas dikala hujan deras yang terus menguyur hingga akhirnya menerjang puluhan rumah warga. Kejadian tahun 1995 itu kembali terulang.

Oleh : Achmad Fadian – Topos, Lebong

Saya menjadi saksi bisu, bagaimana kepanikan, isak tangis pecah warga Desa Talang Donok, Topos melihat luapan sungai yang begitu deras hingga menerjang puluhan rumah warga, ambruknya jembatan gantung yang menjadi akses warga untuk berkebun, panggul dinding sungai yang juga ambruk hingga pagar SMPN 17 Lebong yang ikut ambruk.

Walaupun saya bukan warga asli Talang Donok, tapi saya ikut merasakan kecemasan, kepanikan bahkan binggung mau lari kemana melihat panggul sungai hampir tidak bisa menahan derasnya air yang kabarnya kiriman dari sungai Ketahun itu, kebetulan saya bekerja Kementerian Agama (Kemenag) Kab. Lebong ditugaskan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Topos, kebetulan juga Kantor KUAnya juga beralamat di Desa Talang Donok dan Kosan tempat saya tinggal juga di Desa Talang Donok.

Memang hujan lebat terjadi di Talang Donok dari Senin malam, 15 April 2024 hingga Selasa Subuh juga masih hujan lebat tak kunjung berenti. Saya memang pernah mendengar cerita dari orang tua di sana, dulu Desa Talang Donok pernah terjadi banjir bandang pada tahun 1995, banjir dahsyat yang merendam seluruh Desa Talang Donok, sebab, air yang masuk hampir seleher orang dewasa kala itu.

Saya pun tak terfikir akan kejadian tersebut akan terulang lagi, sama persis seperti di hari ini. Namun banjir bandang tak separah tahun 1995, tapi rasa traumatik warga Desa Talang Donok masih tetap ada hingga saat ini. Bagaimana jeritan, kecemasan warga yang berlari ke tempat yang lebih tinggi hanya membawa pakaian saat tidur dan dokumen penting yang bisa diselamatkan.

Rasa itu ikut saya rasakan. Pukul 05.20 WIB, saya baru saja selesai sholat Subuh di kosan hujan lebat masih mengguyur Desa Talang Donok, kebetulan kosan tempat saya tempati masih agak tinggi dari luapan banjir bandang.

Setelah sholat Subuh, saya memutuskan untuk kembali tidur lagi, apalagi diguyur hujan deras membuat hawa dingin disana semakin tambah dingin, rasa ingin tidur lagi semakin menjadi-jadi. Pukul 06.00 WIB, saya tersentak terbangun, lantaran pintu kosan saya di gedor-gedor oleh salah satu warga dengan begitu kuat, berkali-kali tapi karena hujan begitu deras suara gedor itu hanya terdengar sepintas dan saya tak menghiraukan itu.

Tak berselang lama, listrik seketika ikut mati, biasanya listrik mati, 2 menit kemudian hidup lagi, tapi kali ini, sudah ditunggu sampai 10 menit listrik tak juga hidup, akhirnya saya terbangun dan melihat ke luar rumah, saya sontak terkejut bukan main, melihat warga berlarian keatas mencari tempat tinggi, kecemasan saya menjadi-jadi melihat panggul dinding sungai airnya sudah mau meluap, derasan sungai bikin bulu kuduk merinding dibuatnya.

Tetangga sebelah kosan saya pun memberitahu saya, “Banjir mang, pergilah mengungsi dulu ke tempat yang lebih aman,” ucapnya.

Melihat derasnya sungai yang rasanya ingin menerjang dengan kencang, perasaan saya tambah tidak karuan dibuatnya, saya langsung mengambil barang yang penting seperti, HP, laptop dan lainnya, motor tak lupa langsung saya keluarkan, hujan saat itu masih sangat deras, saya langsung pakai mantel, lalu pergi dari kosan.

Saya yang tidak punya sanak keluarga disana, bingung bukan main mau mengungsi dimana saat itu, rasa cemas, takut menghantui fikiran ini. Saya hanya mengikuti jalan keatas ke arah menuju Desa Talang Baru II, urutan desa jika masuk ke Topos, Talang Donok, Talang Donok Atas, Talang Baru I, Talang Baru II, Suka Negeri, Ajai Siang, Kelurahan Topos dan Tik Sirong.

Karena panik bukan main, saya akhirnya memutuskan ke arah Talang Donok Atas, dimana lokasi terakhir untuk evakuasi.

Karena panik bukan main, saya akhirnya memutuskan ke arah Talang Donok Atas, dimana lokasi tersebut memang sangat tinggi jauh dari banjir, hujan lebat tak menyelimuti saya untuk lari dari sana, bahkan sempat terfikir rasanya ingin langsung pulang saja ke Bengkulu , bagaimana mau pulang ke Bengkulu, kami saja sudah di kepung oleh banjir bandang itu.

Setelah mengikuti arah kemana orang-orang pergi, sayapun bertemu dengan pegawai KUA Topos dan memberitahu saya untuk ke rumah saudaranya di Talang Donok Atas. Saya menunggu disana, sembari berdoa agar banjir bandang ini cepat surut, apalagi, melihat isak tangis warga yang pecah, melihat dari atas, rumah mereka sudah terendam banjir, kebun, ternak sudah dimakan air yang masuk dengan cepatnya ke pemukiman warga.

Pukul 07.00 WIB hingga 09.30 WIB, saya masih menunggu kabar perkembangan banjir bandang yang sudah ke rumah warga yang belum juga surut, hujan masih rintik-rintik kala itu. Listrik pun juga masih madam. Yang saya fikirkan, hanyalah memberitahu keluarga di Bengkulu bahwa saya baik-baik saja, sebab, posisi banjir bandang memang sangat dekat dengan kosan saya tinggal.

Sekitar pukul 11.00 WIB, saya dapat kabar air sudah surut, sontak saya langsung kebawah melihat kosan apakah terdampak banjir bandang atau tidak, Alhamdulillah, kosan saya tidak terdampak banjir, tapi puluhan rumah warga sudah tergenang air yang digenangi lumpur yang begitu tebal, saya yang melihat langsung kejadian itu, merasakan duka yang sangat mendalam, hujan memang sudah redah, warga mulai berbondong bergotong royong mengeluarkan barang warga yang sudah terdampak banjir, lumpur tanah yang begitu tebal, masjid Mutaqqin Desa Talang Donok yang baru saja direnovasi ulang saat menyambut bulan Suci Ramadan kemarin seketika hancur berantakan karena banjir bandang ini.

Biasanya saya melintasi jalan Desa Talang Donok yang begitu asri akan ke khasnya desanya itu, seketika tampak begitu hancur lembur, deburan air sungai masih sangat ganas saat dilihat. (**)

Penulis, merupakan wartawan di Bengkulu dan sudah bersertifikat UKW Madya (13038-PWI/Wdta/DP/XII/2018/21/10/95.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *