Bengkulu – Latto-latto atau clackers ball adalah pendulum dengan dua bola pemberat serupa yang terikat pada tali dengan cincin di atasnya. Dan sekarang permainan yang pernah populer sejak tahun 1960-an kini kembali viral, dimana anak-anak maupun orang dewasa ramai yang memainkan latto-latto termasuk di Bengkulu, bahkan dari video yang beredar saat sedang di Subang dan didampingi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Presiden Indonesia Joko Widodo pun pernah menjajal permainan latto-latto yang saat itu kebetulan ada seorang anak di Subang terlihat oleh rombongan Presiden dan Gubernur Jawa Barat sedang memainkan latto-latto, “Sekarang sedang musim, dimana-mana anak-anak banyak yang menanyakan dimana tempat beli latto-latto,” ujar Yanto (43) salah seorang penjual mainan keliling di Pasar Panorama Kota Bengkulu, Rabu (28/12).
Latto-latto ini adalah permainan yang saat dimainkan, dua bola plastik atau pendulum itu memantul satu sama lain dan menimbulkan bunyi “klak” yang memuaskan. Semakin cepat gerakan makan akan semakin keras dan kencang suara yang ditimbulkan dan membuat sang pemain merasa bahwa trik permainannya sukses. Adapun manfaat permainan latto-latto Ketika bermain latto-latto, kamu perlu berkonsentrasi dan fokus untuk membuat kedua bola tetap beradu. Inilah salah satu manfaat dari permainan tersebut, yaitu melatih fokus dan konsentrasi.
Semakin lama kamu ingin membuat bola tetap bergerak seimbang dan lama, semakin tinggi fokus dan konsentrasi yang kamu perlukan. Selain itu, mainan ini juga mampu membantu melatih gerak motorik dan koordinasi anak. Memang benar, kedua hal ini sangat penting untuk.
Kemudian resiko permainan latto-latto Ada hal yang perlu orang tua perhatikan terkait mainan ini. Pemain latto-latto mungkin sangat menyenangkan, terutama saat anak berhasil membenturkan kedua bola tersebut hingga menghasilkan suara keras.
Namun, semakin keras benturannya, semakin tinggi risiko kedua bola tersebut pecah dan berserakan. Sayangnya, anak-anak terkadang memainkan permainan ini terlalu dekat dengan wajah. Alhasil, ketika bola tersebut pecah, bukan tidak mungkin pecahan materialnya akan masuk dan mengenai mata, sehingga meningkatkan risiko kebutaan.
Bahkan, sebelum berbahan plastik seperti sekarang ini, latto-latto pada tahun 1960 hingga 1970 terbuat dari bahan kaca. Setelah terjadi insiden yang membuat empat orang terluka di Amerika Serikat, produsen kemudian menarik produk tersebut dan mengubah materialnya menjadi plastik.
Sayangnya, perubahan tersebut tetap tidak menyelesaikan masalah. Sebab, material plastik cenderung lebih mudah pecah daripada kaca. Meski begitu, setidaknya bahan plastik tidak berserakan separah material kaca saat pecah.
Latto-latto sempat dilarang di Mesir Pada Tahun 2017

Permainan ini juga tidak boleh di Mesir pada tahun 2017, meski sebenarnya permainan pendulum ini sedang begitu populer di negara tersebut. Alasannya mungkin terdengar sangat aneh, yaitu permainan tersebut dianggap melecehkan Abdel Fattah al-Sisi, Presiden Mesir kala itu.
Sebab, clacker balls saat itu bernama “Sisi’s balls” yang merujuk pada bagian privasi dari sang presiden. Sejak saat itu, negara menganggap permainan ini menyinggung pemerintah setempat. Jadi, sebaiknya orang tua mempertimbangkan dengan baik manfaat dan risikonya sebelum memberikan permainan ini pada anak-anak.(Penulis : Novi – Editor : Ahmad Nasti Nasution)















