Bengkulu, – Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Provinsi Bengkulu menargetkan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan. Program pendidikan yang mulai beroperasi sejak 20 Juli 2026 itu kini terus memperkuat pembiasaan positif, pendidikan karakter, serta kemampuan akademik para peserta didik.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Provinsi Bengkulu, Yuliarma Yeni, M.Pd, mengatakan SR Terintegrasi Bengkulu mengampu tiga jenjang pendidikan, yakni SD, SMP, dan SMA. Saat ini, jumlah peserta didik yang mengikuti program tersebut mencapai sekitar 310 orang dan seluruhnya tinggal di asrama.
“Target kita jangan sampai ada anak yang tidak sekolah. Di sini mereka tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kebiasaan positif,” kata Yuliarma saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (26/8/2026).
Ia menjelaskan, aktivitas peserta didik dirancang secara teratur melalui program daily activity. Kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi dimulai sejak anak bangun hingga kembali beristirahat pada malam hari.
Peserta didik dibiasakan bangun pukul 04.00 WIB, membersihkan diri dan kamar, kemudian menjalankan ibadah. Bagi peserta didik Muslim, salat lima waktu secara berjamaah menjadi bagian dari pembiasaan. Setelah itu, mereka mengikuti kegiatan pagi, termasuk sarapan yang juga diatur secara terjadwal.
Menurut Yuliarma, pola tersebut diharapkan dapat membentuk kedisiplinan dan kemandirian anak. Selain pembelajaran di kelas, kegiatan di luar kelas juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
SR Terintegrasi Bengkulu terbuka bagi anak dari berbagai latar belakang agama. Sekolah juga berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan masing-masing peserta didik. Untuk peserta didik beragama Kristen, misalnya, pihak sekolah memfasilitasi mereka beribadah ke gereja setiap Minggu karena jumlahnya masih terbatas.
Yuliarma menegaskan, keberhasilan Sekolah Rakyat membutuhkan dukungan dari orang tua, pemerintah daerah, dan masyarakat luas. Program tersebut diharapkan mampu memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
“Harapannya, setelah tiga tahun, khususnya ketika anak-anak menyelesaikan jenjang SMA, mereka memiliki bekal akademik, keterampilan dan karakter untuk melanjutkan kehidupan,” ujarnya.
Untuk penerimaan peserta didik, prioritas utama diberikan kepada keluarga yang masuk desil satu dan dua berdasarkan data kesejahteraan. Namun, apabila ditemukan anak yang secara kondisi riil membutuhkan pendidikan di Sekolah Rakyat, tetapi belum masuk dalam data tersebut, pihak terkait dapat melakukan penyesuaian berdasarkan verifikasi lapangan.(Raffa)















