Bengkulu, – Upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus memperkuat peran masyarakat menjadi fondasi penting dalam menghadapi perubahan iklim serta memanfaatkan potensi ekonomi dari sektor lingkungan. Hal ini disampaikan Direktur KKI Warsi, Adi Junaidi, saat kegiatan buka puasa bersama media di Bengkulu, Rabu (11/3).
Menurut Adi, Provinsi Bengkulu memiliki potensi besar dari sektor karbon hutan yang dapat menghasilkan nilai ekonomi melalui perdagangan emisi karbon. Namun hingga saat ini potensi karbon tersebut belum dihitung secara menyeluruh di tingkat provinsi.
Adi menegaskan bahwa KKI Warsi berfokus pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Ia mengingatkan agar terbukanya pasar karbon tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang selama ini menjaga dan mengelola kawasan hutan.
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak tertinggal. Hutan yang mereka kelola harus tetap dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak kepada masyarakat agar pengelolaan hutan memberikan dampak ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara juga telah menjalin kerja sama dengan KKI Warsi melalui penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama pada tahun 2024 hingga 2025. Kerja sama ini bertujuan mendukung pengelolaan hutan rendah emisi karbon serta menjaga kawasan hutan lindung di wilayah Bukit Daun hingga Giri Mulya dan Bukit Resam.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Integrated Area Development (IAD) berbasis perhutanan sosial. Model ini mengintegrasikan program pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam satu kawasan untuk meningkatkan ekonomi melalui sektor agroforestri dan ekowisata, sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Program tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas masyarakat melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Hingga saat ini sekitar 1.800 orang telah mendapatkan penguatan kapasitas dengan dukungan anggaran sekitar Rp11 miliar.
Adi juga mengingatkan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman nyata. Ia mencontohkan munculnya fenomena siklon yang sebelumnya jarang terjadi di wilayah tropis, termasuk Bengkulu.
“Momentum Ramadan ini menjadi saat untuk merenungkan, apakah kita akan membiarkan perubahan iklim memicu bencana, atau mulai melakukan langkah nyata untuk mengurangi risikonya,” pungkasnya.(Raffa)















